Pada kesempatan yang mulia ini, di tempat yang mulia ini,
saya berwasiat kepada pribadi saya sendiri dan juga kepada para hadirin
sekalian, marilah kita senantiasa meningkatkan takwa kita kepada Allah
subhanahu wa ta’ala dengan selalu berusaha melaksanakan perintah-perintah-Nya
serta menjauhkan diri dari larangan-larangan-Nya. Semoga usaha takwa kita akan
selalu terbawa sepanjang hayat sehingga kelak usaha tersebut dapat
menghantarkan kita saat dipanggil Allah subhanahu wa ta’ala dalam keadaan mati
husnul khatimah, amin ya Rabbal Alamin.
Kita sekarang berada di zaman informasi tanpa sekat ruang
dan waktu. Sebuah kejadian di belahan bumi yang lain, misalnya di Amerika,
Jepang dan sebagainya, pada menit itu pula bisa kita mengakses informasinya tanpa
menunggu beberapa hari kemudian. Hal ini tercipta dengan mudah setelah
berkembangnya teknologi informasi dan media sosial (medsos) di tangan mayoritas
masyarakat dunia.
Bagai pedang bermata dua, di satu sisi, atas segala
kemudahan penyebaran informasi, kita patut bersyukur karena media mencari
informasi keilmuan terbuka luas, komunikasi bisnis sangat terbantu. Namun, di
satu sisi lain, lewat medsos pula, orang bisa menjadi mudah melanggar
norma-norma agama maupun tatanan sosial masyarakat.
Dahulu orang hanya bisa membicarakan keburukan orang lain
harus menunggu bertemu dan bertatap muka dengan lawan bicaranya terlebih
dahulu, bicaranya terbatas dengan waktu dan itu pun pendengarnya hanya terbatas
beberapa orang saja. Kini, dengan hadirnya medsos, seseorang bisa menceritakan
kekurangan orang lain hanya dengan apa yang ada dalam genggaman tangan, melalui
tulisan, gambar, atau video yang bisa diproduksi dalam hitungan menit. Dalam
waktu sebentar saja konten itu lalu menyebar ke mana-mana. Jutaan orang bisa
mengakses dan hebatnya lagi, gunjingan di media sosial tidak akan pernah hilang
sebelum dihapus.
Menceritakan keburukan orang lain, dalam agama Islam
dikenal dengan istilah ghîbah. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu
Hurairah diceritakan, suatu ketika Rasulullah ﷺ pernah bertanya kepada para sahabat:
أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ؟
“Apakah kalian tahu apa itu
ghibah?”
Para sahabat menjawab:
اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ
“Allah dan Rasulnya yang lebih tahu”
Kemudian Nabi menjawab:
ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ
”Ghibah adalah ketika kamu
mengisahkan teman kamu tentang suatu yang tidak ia sukai.
Lalu ada yang tanya kepada Nabi:
أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُولُ؟
“Bagaimana kalau yang saya katakan
itu memang sesuai faktanya, Ya Rasul?”
إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ، فَقَدِ اغْتَبْتَهُ، وَإِنْ
لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ
“Ya kalau memang yang kamu katakan
itu fatka, berarti kamu menggujingnya. Namun jika yang kamu bicarakan tidak
sesuai fakta, maka kamu membuat kedustaan terhadap dirinya” (HR Muslim).
Dalam pergaulan kekeluargaan dan masyarakat, kemungkinan
besar kita akan menemukan kekurangan-kekurangan orang di sekitar kita. Dan itu
wajar, karena di sekeliling kita adalah manusia. Tak ada manusia tanpa
kekurangan di dunia ini. Jika harus menuntut adanya manusia suci tanpa salah,
seharusnya tuntutan tersebut terlebih dahulu untuk diri kita sendiri ketimbang
orang lain. Apabila kita kerap mengaku, “Wah, saya ini manusia biasa yang
terkadang tergelincir pada salah dan dosa”, seharusnya seperti ini pula kita
bersikap kepada orang lain. Jangan kalau kita melakukan kesalahan minta
dianggap wajar, tapi giliran orang lain yang melakukan kesalahan, tidak kita
salahkan dan gunjing habis-habisan.
Seseorang yang tidak mudah menganggap wajar kesalahan orang
lain, ia akan mudah menceritakan kesalahan-kesalahan mereka. Sekarang,
fasilitas yang paling praktis untuk menceritakan orang lain cukup banyak, mulai
dari WA, Facebook, Instagram, Twitter, Youtube dan lain sebagainya. Peluang
untuk mengungkapkan isi hati atau menceritakan kekurangan orang lain menganga
besar.
Artinya: “Di antara maksiat tangan adalah menuliskan satu
hal yang haram diucapkan” (Syekh Muhammad bin Salim Ba-Bashil, Is’adur Rafiq,
juz 2, hal. 105)
Lebih jauh beliau melanjutkan bahwa menggunjing dan jenis
dosa menulis yang lain justru dosanya lebih besar dan lebih langgeng. Sebab
apa? Karena potensi jangkauan maksiat tersebut lebih luas, dan tidak akan bisa
hilang dalam sekejap. Berbeda dengan ucapan, sekali disampaikan, langsung tidak
ada bekasnya. Walaupun kebencian yang ditebar juga tetap berbahaya.
Oleh karena itu, baik melalui chat, telepon, video,
sepanjang ada unsur menggunjingnya, hukumnya adalah haram. Keharaman ini
berlaku baik menggunjing sesama Muslim atau pun menggunjing non-Muslim yang
mereka tidak menyakiti kita.
Dalam kitab Az-Zawajir, Ibnu Hajar al-Haitami menceritakan
bahwa Imam al-Ghazali pernah ditanya tentang hukum menggunjing non-Muslim.
Kemudian Imam al-Ghazali menjawab:
هِيَ فِي حَقِّ الْمُسْلِمِ مَحْذُورَةٌ
لِثَلَاثِ عِلَلٍ
“Bagi seorang Muslim menggunjing
orang kafir dilarang karena tiga alasan.”
الْإِيذَاءُ
Pertama yaitu menyakiti hatinya. Menyakiti hati orang lain,
selama dia tidak menyakiti kita, baik itu Muslim atau non-Muslim, tidak
dibenarkan.
وَتَنْقِيصُ خَلْقِ اللَّهِ، فَإِنَّ اللَّهَ
خَالِقٌ لِأَفْعَالِ الْعِبَادِ
Kedua, menganggap kurang ciptaan Allah. Padahal Allah-lah
yang menciptakan semua gerak-gerik hamba-hamba-Nya. (Menjelek-jelekkan
non-Muslim di luar urusan keyakinannya, sama juga menganggap ada yang kurang
sempurna pada ciptaan Allah).
وَتَضْيِيعُ الْوَقْتِ بِمَا لَا يُعْنِي
Katiga, boros waktu untuk hal-hal yang tidak berguna.
Lebih lanjut, Imam Ghazali juga
menyatakan:
وَأَمَّا الذِّمِّيُّ فَكَالْمُسْلِمِ فِيمَا
يَرْجِعُ إلَى الْمَنْعِ مِنْ الْإِيذَاءِ،؛ لِأَنَّ الشَّرْعَ عَصَمَ عِرْضَهُ
وَدَمَهُ وَمَالَهُ.
Kafir dzimmi
(non-Muslim yang tidak memerangi orang Muslim) hukumnya berlaku sebagaimana
orang Islam dalam hal masing-masing tidak boleh disakiti. Sesungguhnya syara’
melindungi kehormatan, darah dan hartanya. (Ibnu Hajar al-Haitami, Az-Zawâjir,
[Dârul Fikr, Beirut, 1987], juz 2, halaman 27).
Dalam bermedsos, di antara kita banyak pula yang menjadi
silent reader atau pembaca pasif. Tidak pernah menuliskan status di Facebook,
tidak pernah berkomentar di WA Group, namun aktif membaca ke sana kemari.
Menjadi silent reader pun tak lantas terbebas dari jeratan ghibah,
Sebagai silent reader, kita juga harus berhati-hati dalam
memilih berteman, mem-follow atau men-subscribe siapa? Karena apabila kita
salah memilih teman, berada pada grup yang keliru, men-subscribe orang-orang
yang gemar menggunjing pihak lain, maka kita akan dengan mudah menjadi otomatis
membaca berita gunjingan mereka.
Imam Nawawi dalam kitabnya
Hilyatul Anwar wa Syi’arul Abrar mengatakan:
اِعْلَمْ أَنَّ الْغِيْبَةَ كَمَا يَحْرُمُ
عَلَى الْمُغْتَابِ ذِكْرُهَا، يَحْرُمُ عَلَى السَّامِعِ اِسْتِمَاعُهَا
وَإِقْرَارُهَا.
“Menyimak sebuah gunjingan dan membiarkannya
itu sama haramnya dengan menggunjing itu sendiri. Bagi penyimak jika mempunyai
kemampuan harus mencegah, memberikan nasihat kepada pembuat konten. Minimal,
jika tidak mampu manangkal, hatinya harus inkar dan meninggalkan majelis
tersebut. Dalam konteks medsos, apabila ada postingan yang arahnya membicarakan
keburukan orang lain, segera pindah ke konten lain yang lebih bermanfaat.
Jangan justru gunjingan tersebut dibaca sampai selesai.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا
كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا
يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ
مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ
Artinya: “Hai orang-orang yang
beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari
purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah
menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan
daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.
Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha
Penyayang” (QS Al-Hujurat: 12).
Dalam sebuah hadits, Nabi bersabda:
يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ، وَلَمْ
يَدْخُلِ الْإِيمَانُ قَلْبَهُ، لَا تَغْتَابُوا الْمُسْلِمِينَ، وَلَا
تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ، فَإِنَّهُ مَنِ اتَّبَعَ عَوْرَاتِهِمْ يَتَّبِعُ
اللَّهُ عَوْرَتَهُ، وَمَنْ يَتَّبِعِ اللَّهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ فِي بَيْتِهِ»
Artinya: "Wahai orang-orang
yang beriman dengan lisannya akan tetapi iman belum masuk kedalam hatinya,
janganlah kalian mengghibahi kaum muslimin, dan janganlah pula mencai-cari aib
mereka, sesungguhnya barang siapa yang mencari-cari aib saudaranya sesama
muslim maka Allah akan mencari-cari kesalahannya, dan barangsiapa yang Allah
mencari-cari kesalahannya maka Allah akan mempermalukannya meskipun ia berada
di dalam rumahnya". (HR Abu Dawud)
Masyaallah..
BalasHapussulit bagi kita tuk mengetahui suatu berita/cerita di medsos dari hasil gibah atau tidak...
Semoga kita tetap dlm lindunganNya agar terhindar dari yg haram..
Sebuah realita dizaman akhir ini..dari ghibah yg bahkan sampai fitnah terjadi lewat medsos.
BalasHapusSemoga kita bisa bijak dalam bermedsos
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusMantab gus
BalasHapusSaat ini di era modern ghibah tidak hanya lewat lesan tapi juga lewat tulisan di medsos