Setiap proses dalam rangka meningkatkan keimanan dan ketaqwaan
kita, wajib bagi muslim melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah dan
Rasul-Nya, kita juga harus melengkapinya dengan pemahaman tentang bagaimana beriman atau
berkeyakinan serta bertauhid kepada Allah dan Rasul-Nya secara benar. Yang perlu diketahui pertama kali, paling
mendasar bagi semua insan adalah
mengetahui tentang ketuhanan (tauhid)
secara mantap dalam hati. Mengutip pernyataan Syekh Ibnu Ruslan dalam kitabnya Az-Zubad yang
pada intinya Artinya: “Kewajiban pertama kali bagi manusia adalah mengenal
Tuhan dengan keyakinan yang teguh.”
Ulama-ulama
Ahlussunnah menyatakan, setiap orang Islam wajib mengetahui sifat dasar ketuhanan yang tercantum pada
istilah Aqaid lima puluh. Pada akidah dasar ini setiap orang harus mengenal Tuhannya, bahwa Tuhan itu
mempunyai sifat wajib 20, sifat muhal/mustahil juga 20, dan sifat jâiz satu. Semua sifat di atas
adalah dogma yang bersifat absolut (benar, mutlak dan tak terbatas).
Bila Allah disebut sebagai Dzat yang
Maha-Melihat, Maha-Mendengar, dan MahaMengetahui, maka penglihatan, pendengaran
dan pengetahuan Allah subhanahu wa ta’ala tak terbatas dengan ruang dan waktu. Demikian juga
kekuasaan dan kehendak-Nya tidak terbatas dengan ruang dan waktu.
Berbeda sekali dari manusia yang
senantiasa dalam keterbatasan. Misalnya kita melihat, penglihatan kita terbatas pada saat
kita terjaga. Ketika kita tidur, kita tak lagi bisa melihat. Cara melihat kita pun melalui
perantara mata. Tanpa mata, kita tidak bisa melihat. Jarak pandang kita juga terbatas. Kita di
Indonesia tak bisa melihat belahan bumi yang berseberangan dengan kita. Bahkan kita tidak
bisa melihat dengan jarak di atas 1 km.Ini menunjukkan pandangan kita terbatas. Berbeda
dengan pandangan Allah yang absolut, tak terbatas.
Kedua, apa saja yang terjadi di alam semesta ini, tidak lepas dari sifat qudrah (kemapuan) dan irâdah (kehendak) Allah. Kehendak Allah meliputi apa saja yang terjadi di jagat raya ini baik itu berskala kecil mulai dari penciptaan atom, pergerakan mikroba sampai penciptaan bumi langit seisinya dan semua kegiatan entah itu baik atau buruk, semua atas kehendak Allah.
وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلۡعَٰلَمِينَ
Artinya: “Dan kamu tidak dapat
menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan seluruh alam. (QS
At-Takwir: 29)
Pada ayat tersebut, Imam Al-Qurtubi dalam tafsirnya menyatakan bahwa ayat tersebut turun berawal dari ayat yang Artinya: “(Al-Quran) itu tidak lain adalah peringatan bagi seluruh alam. (Yaitu) bagi siapa di antara kamu yang menghendaki jalan yang lurus.”
Menurut cerita Abu Hurairah dan Sulaiman bin Musa, saat ada Al-Qur'an yang berbunyi, “bagi siapa di antara kamu yang menghendaki jalan yang lurus”, Abu Jahal lalu berdalih. Ia membuat ayat ini sebagai tameng. “Semua urusan itu terserah kita. Kalau kita mau, kita akan jadi orang yang lurus. Jika kita tidak mau, ya kita tidak akan jadi orang lurus.” Begitu kata Abu Jahal. Ideologi ini termasuk konsep dasar ideologi Qadariyah. Setelah Abu Jahal mengatakan demikian, turunlah ayat: yang artinya Dengan demikian, jadi jelas. Seorang hamba tidak akan bisa berbuat kebaikan kecuali mendapatkan pertolongan Allah, dan tidak pula bisa melakukan keburukan kecuali melalui perantara kuasa Allah. (Tafsir Al-Qurthubi, juz 19, halaman 243)
Meskipun semua kebaikan dan keburukan itu atas kehendak Allah, para ulama membuat klasifikasi sebagai berikut, Ada satu hal yang dikehendaki oleh Allah. Perkara ini selain dikehendaki, juga disukai dan diridhai oleh Allah subhanahu wa ta’ala, yaitu perbuatan yang sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya.
Namun ada pula satu hal yang dikehendaki oleh Allah tapi tidak disukai dan tidak diridhai oleh Allah subhanahu wa ta’ala yakni perbuatan-perbuatan maksiat yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya. Sehingga sebagai bentuk adab kita kepada Allah, jika kita melakukan kebaikan, kita harus mengembalikan bahwa ini bukan kehendak kita, namun kehendak Allah. Sehingga kita mengucapkan hamdalah, atas taufiq atau pertolongan Allah,kita bisa melaksanakan taat.
فَأَلۡهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقۡوَىٰهَا
Artinya: “Maka Dia (Allah)
mengilhamakaan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya.” (QS As-Syams: 8)
Sebaliknya, seumpama kita terpeleset melakukan maksiat, kita seharusnya menyatakan itu perilaku kita pribadi berdasarkan atas kebodohan kita. Sehingga jika demikian, kita kemudian minta ampun/istighfar kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Jika kita sudah memahami bahwa semua yang terjadi atas kehendak Allah, kita tidak boleh memaksa siapa pun untuk mengikuti kehendak kita, baik secara gagasan maupun gerakan, termasuk dalam masalah berdakwah. Jangankan kita, Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam saja tidak punya otoritas untuk memberikan hidayah kepada seseorang, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:
إِنَّكَ لَا تَهۡدِي مَنۡ أَحۡبَبۡتَ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يَهۡدِي مَن يَشَآءُۚ وَهُوَ أَعۡلَمُ بِٱلۡمُهۡتَدِينَ
Artinya: “Sungguh, Engkau (Muhammad)
tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk
kepada orang yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk." (QS
Al-Qashah: 56)
Merupakan sunnatullah, manusia diciptakan terdiri dari laki-laki dan perempuan, bersuku-suku dan berbangsa-bangsa. Bahkan beraneka ragam budaya serta agama yang diyakini oleh penduduk yang hidup di bawah kolong langit ini. Semuanya itu hanya Allah yang akan memberikan penilaian. Siapa di antara mereka yang paling mulia? Tentu mereka yang paling takwa. Siapa yang paling takwa, hanya Allah yang paling bisa memberikan penilaian.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقۡنَٰكُم مِّن ذَكَرٖ وَأُنثَىٰ وَجَعَلۡنَٰكُمۡ شُعُوبٗا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓاْۚ إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٞ
Artinya:" Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha teliti. (QS Al-Hujurat:13)
Sikap
ekstrem atau keras dalam beragama dan tindakan kekerasan dalam berdakwah hanya akan merugikan diri sendiri dan
membuat citra negatif terhadap kesucian dan keagungan Islam yang kita cintai dan kita
banggakan ini. Oleh karena itu, marilah kita teladani akhlak dan perilaku Rasulullah
shallallahu alaihi wa sallam sebagaimana yang dinyatakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala:
فَبِمَا رَحۡمَةٖ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمۡۖ وَلَوۡ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلۡقَلۡبِ لَٱنفَضُّواْ مِنۡ حَوۡلِكَۖ فَٱعۡفُ عَنۡهُمۡ وَٱسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ وَشَاوِرۡهُمۡ فِي ٱلۡأَمۡرِۖ فَإِذَا عَزَمۡتَ فَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُتَوَكِّلِينَ
Artinya: “Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusayawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orangorang yang bertawakal.” (QS Ali Imran: 159)
Jika
tauhid kita kuat, mestinya kita tidak akan menebar ketakutan atau teror kepada siapa pun. Nabi Muhammad dengan
perilakunya, sikapnya yang lemah lembut bisa menarik orang-orang yang sebelumnya belum Islam
menjadi memeluk agama Islam karena tertarik dengan model dan cara dakwah Nabi Muhammad
shallallahu alaihi wa sallam. Meskipun begitu, tetap saja ada orang-orang yang iri dan tidak
setuju pada dakwah Baginda Nabi yang mengajak mengesakan Tuhan seperti Abu Jahal, Abu
Lahab dan sebagainya. Bagaimana sikap Nabi? Nabi
tidak membalasnya dengan menebar teror kepada mereka. Nabi tidak pernah memaksakan ajakan
dakwahnya kepada mereka.
Lalu kenapa Nabi Muhammad berperang?
Iya, perang yang dilakukan Nabi bukan
dalam rangka teror. Perang yang dilakukan Nabi adalah perang di medan tempur. Tidak
ngebom di perumahan dengan membabi-buta. Namun hanya dilakukan di medan tempur saja. Alasan yang
melatarbelanginya pun amat masuk akal, yakni pembelaan diri lantaran kezaliman yang dialami
umat Islam. Sejak awal, Allah sudah mewahyukan kepada Nabi dengan ayat
مَّا عَلَى ٱلرَّسُولِ إِلَّا ٱلۡبَلَٰغُۗ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ مَا تُبۡدُونَ وَمَا تَكۡتُمُونَ
Artinya: “Kewajiban Rasul tidak lain
hanyalah menyampaikan (amanat Allah).” (QS AlMaidah: 99) Jika Rasul yang benar-benar utusan Allah yang
disucikan dari dosa dan mendapat mandat langsung dari Allah saja tugasnya hanya menyampaikan,
maka tidak patut bagi kita untuk memaksakan kehendak atau pemahaman agama kita kepada orang lain. Terlebih bertindak radikal dengan menyebarkan teror ke mana-mana. Justru ini merugikan umat Islam sendiri. Hadirin, Semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa membimbing kita dan keluarga kita untuk bisa memeluk Islam dengan aqidah atau keyakinan yang benar, Allah pertemukan kita kepada guru-guru agama yang benar-benar faham akan agama. Semoga Allah memberikan taufiq dan hidayahnya sehingga kita bisa mengikuti syari'at Baginda Nabi Agungn Muhammad shallallahu alaihi wa sallam yang pada nantinya kita bisa meninggal dalam keadaan husnul khâtimah, amin ya Rabbal alamin.