Rabu, 29 Juli 2020

Instropeksi Diri dan Stop Gampang Menuduh Sesat Orang Lain

Kami berwasiat untuk pribadi kami sendiri dan pada hadirin sekalian. Marilah kita senantiasa meningkatkan takwa kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Taqwa yang benar-benar menunjukkan kita benar-benar tunduk kepadanya, dengan cara selalu berusaha melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.

Kesempurnaan akhlak dan sifat yang menjadi pembeda bagi seluruh makhluk didunia ini yang dimiliki para rasul Allah adalah ada empat, yaitu shiddiq (jujur), amanah (amanah), tabligh (menyampaikan firman Allah), dan fathanah (cerdas). Kita tahu Tabligh artinya menyampaikan. Hanya para rasul yang memiliki tugas ini. Sementara para nabi, meski ma’shum (terbebas dari dosa), ia tak ada kewajiban menyampaikan firman Allah. Artinya, Setiap Rasul pasti nabi, dan sebaliknya tak semua nabi adalah Rasul.

Selain mempunyai tugas menyampaikan atau tabligh, seorang rasul harus cerdas (fathanah). Sehingga, tidak ada didalam sejarah seorang rasul sampai kalah saat adu argumen dengan musuh perihal ajaran dari Allah subhanahu wa ta’ala. Jadi unsur fathanah ini sangat penting dalam bermasyarakat terlebih dalam beragama.

Di dalam Al-Qur’an sering kali Allah menanyakan:

  اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ  

Apakah kalian ini tidak berakal?

اَفَلَا تَتَفَكَّرُوْنَ

Apakah kalian ini tidak mikir?"

Kita sebagai umat Islam harus selalu meningkatkan kemampuan-kemampuan dan kecerdasan kita dengan cara terus belajar, belajar, dan belajar terhadap ilmu-ilmu yang kita butuhkan di bawah bimbingan guru yang tepat.

Dengan hidup di bawah panduan ilmu dan kesesuaian sikap (amal shalih), Allah akan mengangkat derajat kita.

Allah berfirman:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

 Artinya: “Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman dari kalian dan orang-orang yang diberikan ilmu banyak derajat” (QS Al-Mujadilah: 11).

Begitulah pentingnya ilmu sebagai penyangga keagamaan seseorang. Untuk mencapai derajat yang tinggi, beramal shalih saja belum cukup, tapi harus juga mempunyai ilmu yang cukup. Bagaimana jadinya jika ada orang yang shalatnya kelihatan khusyu’, sambil menangis, tapi setelah selesai shalat dia bertransaksi riba, Dia makan anjing, memakan swike katak, makan daging ular, atau hal-hal lain yang diharamkan agama sebab ketidaktahuan mereka? Dengan demikian, khusyu’ saja tanpa mengetahui mana halal dan mana haram, akan ada banyak kesalahan yang dilakukan tanpa dia sadari.

Contoh yang lain lagi adalah, ada orang ingin membantu umat Muslim yang lain dengan cara memposisikan diri sebagai amil zakat. Menjadi relawan amil zakat itu tentu bagus. Tapi ketika ia tidak mempunyai ilmu tentang zakat yang cukup, zakat bisa saja disalurkan kepada orang-orang yang tidak berhak. Dampak buruknya pun merembet ke masyarakat. Oleh karena itu, bersemangat saja dalam beragama tidak cukup. Perlu bekal ilmu untuk mengejawantahkan semangat itu. Semangat beragama itu penting, tapi jangan sampai semangat agama seseorang melebihi kapasitas keilmuannya.

Syekh al-Imam Burhanuddin melantunkan sebuah syair:

فَسَادٌ كَبِيرٌ عَالِمٌ مُتَهَتِّكٌ

 Sebuah malapetaka jika ada orang alim (cerdikiawan) yang rusak.

وَأَكْبَرُ مِنْهُ جَاهِلٌ مُتَنَسِّكُ

Namun lebih kacau lagi jika ada orang bodoh menjalankan ibadah.

هُمَا فِتْنَةٌ فِي الْعَالَمِينَ عَظِيمَةٌ

"Kedua tragedi di atas merupakan tragedi yang sangat besar di seluruh alam.

لِمَنْ بِهِمَا فِي دِينِهِ يَتَمَسَّكُ

Bagi orang yang berpegang teguh kepada agama.

Ilmu akan membimbing seseorang pada semua gerak dan diamnya. Setiap aktivitas, pembicaraan, dan sikapnya merupakan cerminan dari dari landasan ilmu yang dimiliki. Dengan ilmu yang cukup, seseorang tidak akan mudah memvonis salah atau bahkan memvonis kafir atau sesat kepada orang lain dari mereka yang ahli Laailaha illallah.

Sebagian ulama salaf mengatakan

مَنْ كَثُرَ عِلْمُهُ، قَلَّ اِنْكَارُهُ عَلَى النَّاسِ

 Artinya: “Barangsiapa yang banyak ilmunya, perasaan tidak cocoknya kepada masyarakat sedikit.”

Kita harus menyadari betul kondisi bermasyarakat tentu sangat beragam. Baik suku, ras, daerah, adat istiadat (kebiasaan), SDM dan Kemampuan serta kapasitas ilmu mereka tak merata dan bahkan tidak bisa kita samakan. Hal ini juga berdampak pada perbedaan mereka dalam menyikapi suatu hal di sekitarnya. Kendatipun Allah Swt menganugerahkan bekal otak yang sama, nyatanya pemikiran-pemikiran yang keluar dari masing-masing mereka bisa berbeda-beda. Kita tidak bisa menuntut semua orang mempunyai perilaku sama dengan kita persis. Kita juga tidak bisa terlalu idealis, berharap semua umat manusia tidak akan ada yang pernah melakukan kesalahan.

Imam Dzun Nun al-Mishri mengatakan:

لَا خَيْرَ فِيْ صُحْبَةِ مَنْ لَا يُحِبُّ أَنْ يَرَاكَ إِلَّا مَعْصُوْماً

Artinya: “Jangan kamu berteman dengan orang yang maunya hanya memandangmu sebagai orang terjaga dari dosa.”

Saat kita berteman dengan orang yang selalu mengharapkan kita sebagai orang perfect (sempurna), kita akan menjadi orang yang mudah ditinggalkan dan disepelekan. Melakukan kesalahan sedikit saja kita bisa dicela habis-habisan. Di sinilah pentingnya orang memandang satu masalah dengan keilmuan yang cukup.

Oleh sebab itu marilah kita bersama-sama Dalam hidup bermasyarakat, kita harus membangun kecerdasan intelektual, kecerdasan sosial. karena kefahaman tentang agama ini sangat penting mengacu kepada pentingnya sifat fathanah (cerdas) pada sifat Rasul sehingga dengan begitu, kita sebagai umat Islam tidak mudah dibodohi, diadudomba dengan kelompok-kelompok lain.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

 قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا

Artinya: “Katakan (Wahai Muhammad), hai para hamba-Ku yang berlebihan terhadap pribadi mereka, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa, semuanya” (QS Az-Zumar: 53).

Disini jelas sekali Alloh Swt serta merta memvonis siapa saja yang melakukan kesalahan pasti masuk neraka selamanya. Karena Allah maha Pengampun.

كُلُّ بَنِي آدَمَ يُخْطِيءُ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ ثُمَّ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ وَلَا أُبَالِي

"Setiap anak turun Adam akan melakukan kesalahan baik di malam maupun siang. Kemudian dia meminta ampun kepada-Ku, Aku akan mengampuni dia dan saya tidak peduli (jenis apa dosanya)" (Musnad Abi Dawud).

Dengan demikian kita tidak boleh memandang setiap pelaku maksiat pasti masuk neraka, tidak ada celah pintu masuk surga. Rahmatnya Allah sungguh besar. Maksiat seorang hamba itu sangat kecil dibanding rahmat Allah subhanahu wa ta’ala. Dan bukan berarti kita juga seenaknya saja melaikankita tidak boleh menyepelekannya hal sekecil apapun apapun masalahnya terlabih agama.

Begitu pula dalam bernegara, kita sebagai umat muslim Indonesia, dalam memandang negara kita tercinta ini. Seharusnya kita pandang lebih banyak kelebihannya dari pada kekurangannya. Buktinya, segala bentuk amal ibadah termasuk shalat jumat di mana-mana bebas dilaksanakan dan tidak ada larangan. Maka kita harus berterima kasih terhadap hal itu meskipun ada sedikit kekurangannya di sebagian sektor. Oleh karenanya

Marilah kita berdoa bersama, semoga kita diberikan kehidupan yang rukun, damai, sejahtera, bisa menjalankan ibadah dengan khusyu’ tanpa mendapatkan teror dari saudara muslim kita sendiri. Semoga kelak kita meninggal dalam keadaan husnul khatimah, amin Allahumma amin.


Sabtu, 04 Juli 2020

PANDANGAN NEW NORMAL DALAM SUNNAH NABI SAW

Pendahuluan

Hari ini muncul istilah “new normal” seiring dengan pandemik coronavirus disease 19 yang dikenal Covid-19. Pasalnya, tidak ada yang dapat mengklaim kapan vaksin Covid- 19 akan ditemukan. Sementara kelangsungan hidup normal sangat dibutuhkan. Sehingga timbul istilah new normal, termasuk di Indonesia

Penggunaan istilah new normal telah dijumpai sejak beberapa tahun lalu. Istilah new normal digunakan untuk penemuan teknologi tentang databases Istilah ini dilanjutkan dalam temuan aplikasi teknologi informasi. Selebihnya, penerapan new normal dijumpai dalam pembahasan masalah keluarga. Terdapat pula penggunaan new normal untuk masalah keuangan, pekerjaan, dan layanan pemerintah daerah. Pembahasan new normal meluas sampai pada masalah demografi.

Penggunaan new normal diterapkan pula dalam perbincangan politik Indonesia Pun pula penerapan new normal dijumpai dalam pembahasan ekonomi Indonesia (Resosudarmo & Abdurrahman, 2018).

Belakangan new normal timbul berkenaan dengan pandemic Covid-19. Sejumlah penelitian muncul membahas new normal dari mulai masalah kedokteran, kesehatan masyarakat, sosial-ekonomi dan hingga masalah kenegaraan. Ditegaskan bahwa new normal adalah istilah yang dihasilkan dari adaptasi proses sementara dalam pandemi Covid-19, di mana manusia akan memiliki kebiasaan baru dari pembelajaran dan proses adaptasi setelah pandemi Covid-19.

PEMBAHASAN

Hadis secara etimologi berarti “al-jadid” (“yang baru”) kebalikan dari “al-qadim (“yang lama”). Hadis secara istilah berarti “apa saja yang berasal dari Nabi Saw.”. Istilah hadis disebut juga sunnah, yakni “segala yang dinukilkan dari Nabi Saw.” Hadis konotasinya adalah segala peristiwa yang dinisbahkan kepada Nabi Saw., walaupun hanya sekali saja beliau menyampaikannya. Adapun sunnah ialah yang disampaikan Nabi Saw. terus-menerus dan dinukilkan dari masa ke masa. Nabi Saw melaksanakannya beserta para Sahabat, dan kemudian oleh para tabi’in, serta seterusnya oleh generasi demi generasi sampai pada masa-masa berikutnya, menjadi pranata dalam kehidupan muslim.

Nabi Muhammad Saw. dipilih Allah Swt. menjadi Nabi dipahami sebagai “kebaruan.” Semula manusia biasa (“ana basaru mislukum”) kemudian menjadi Nabi. Nabi Muhammad Saw. diutus oleh Allah Swt. sebagai Rasul juga merupakan “kebaruan.” Semula hanya Nabi kemudian menjadi Rasul. Tujuan kenabian (nubuwwah) dan kerasulan (risalah) melalui wahyu Al-Qur’an dapat dipahami untuk “normalisasi” dari kehidupan yang telah bergeser dari iman (ketauhidan), Islam (keselamatan), dan ihsan (kebaikan).Itu sebabnya, Rasulullah Saw. mencipta “tatanan baru” yang menyelamatkan.

Secara garis besar, Nabi Saw. menerapkan dua hal. Pertama, spiritualitas bahwa segala sesuatu merupakan perenungan terdalam untuk mengingat Allah Swt. Kedua, kebaikan bahwa pelaksanaan segala sesuatu bertujuan untuk kebaikan bagi sesama.
Dalam sejarah perkembangan Islam, timbul satu hal lagi. Ketiga, ilmu pengetahuan (science) dan peradaban (civilization), hingga Islam mengalami puncak keemasannya pada abad ke 8 M. Dengan demikian, ajaran Nabi Saw. adalah spiritualitas, kebaikan, dan peradaban . Sejumlah peneliti telah menunjukan bahwa Nabi Muhammad Saw. berperan untuk misi keselamatan hingga akhir zaman, termasuk prinsip-prinsip mendasar cegah wabah semisal Covid-19 . Ajaran Nabi Saw. Memiliki relevansi dengan situasi dan kondisi penanganan Covid-19 .

Pandemi Covid-19 serta kondisi darurat tampak dikaji berdasarkan hadis secara
tematik. Pentingnya proteksi diri saat pandemi Covid-19 berdasarkan hadits shahih. Jelaslah bahwa virus Corona merupakan subjek yang dapat diteliti dari perspektif Sunnah .

Pelaksanaan shalat merupakan ajaran spritualitas utama yang disampaikan Nabi Saw. Bermula dari ajaran tentang thaharah (kebersihan) mencakup wudhu, membasuh telapak tangan, membersihkan rongga hidung, berkumur, dan membasuk muka, serta pakaian yang dikenakan mesti dalam keadaan bersih dari kotoran. Belakangan dipahami bahwa perintah shalat ternyata berdampak besar terhadap kesehatan .

Namun demikian, salat berjemaah di masjid dengan saf terpisah menjadi prosedur yang perlu diperhatikan mengingat sedang berjangkitnya wabah . Penggunaan masker penutup wajah saat salat merupakan langkah preventif pencegahan wabah Coronavirus Covid-19. Terlihat bahwa begitu besar kontribusi sufisme di bidang kesehatan jiwa dalam menghadapi Covid-19. Di sinilah pentingnya menyikapi wabah penyakit Covid-19 sebagai tindakan bertasawuf .

Islam Indonesia dalam menghadapi krisis keagamaan masa pandemi Covid-19. Dalam kaitan ini diharapkan timbul suatu sikap keberagamaan (religiusitas) masyarakat muslim Ketika menghadapi wabah Covid-19 yang tidak terlepas dari prinsip ajaran Nab Saw. Tegaslah bahwa Nabi Saw. telah mengajarkan prinsip dasar peradaban, termasuk bagaimana mencipta tatanan ekonomi yang baik. Selain berimplikasi pada spiritualitas umat Islam, kebijakan Rasulullah saw. juga berdampak pada “normalitas” iklim perekonomian. Aktivitas ekonami semisal marketing berbasis syariah – yang tengah berlangsung-- dalam menghadapi Covid-19 dipastikan terganggu, tetapi tidak boleh hingga mengurungkan niat untuk ikhtiyar. Penting sekali upaya menjaga keragaman ekonomi rakyat di tengah pandemi Covid-19 untuk kemakmuran Bangsa Indonesia. Apa pun pasti ada hikmah di tengah wabah virus Corona sejalan dengan kebijakan new normal diIndonesia.

 KESIMPULAN

Istilah “new normal” bukan sama sekali baru, melainkan “normalitas” atau “kenormalan baru.” Kebijakan Pemerintah Indonesia tentang new normal di tengahtengah pandemic Covid-19 merupakan langkah tepat. Adapun bagi umat muslim penting sekali mengambil prinsip-prinsip dasar dari ajaran sunnah Rasulullah Saw. menuju kebarhasilan pelaksanaan new normal dengan tentunya memperhatikan prosedur Covid-19.