Minggu, 29 November 2020

MENGHARGAI POTENSI DAN JAUHI RASISME

Allah telah menciptakan manusia dengan bentuk dan penampilan yang terbaik. Dalam Al-Qur’an Surat at-Tin diistilahkan dengan frasa fî ahsani taqwîm. Mayoritas ahli tafsir memaknai taqwîm di sini sebagai bentuk (syakl) dan penampilan (shûrah) lantaran struktur tubuh yang tegap, cara konsumsi yang menggunakan tangan, dan keindahan lain yang tak dimiliki kebanyakan binatang.    Yang menarik, penegasan tentang hal ini menggunakan dua huruf penguat lam dan qad (wa laqad khalaqnâl insâna fî ahsani taqwîm) yang berarti pesan ini sangat Allah tekankan. Apalagi sebelum ayat keempat ini, tiga ayat sebelumnya masing-masing merupakan redaksi sumpah, yang kian memperkokoh pernyataan tersebut. Allah sungguh-sungguh menegaskan bahwa manusia Dia ciptakan dalam bentuk terbaik. Hal ini berlaku untuk manusia secara umum tanpa membeda-bedakan antara satu sama lain.

Namun demikian, ternyata Allah pun menciptakan mereka dalam ciri yang beraneka ragam, mulai dari jenis kelamin, suku, rumpun bangsa, hingga kemampuan fisik. Pada titik inilah, manusia kemudian terkelompok-kelompokkan berdasar kesamaan yang dimiliki. Berangkat dari kondisi ini tak jarang sentiman antarkomunitas pun muncul. Ras satu menganggap diri lebih unggul dari ras yang lain, etnis satu merasa lebih baik dari yang lain. Kecenderungan tersebut lazim kita sebut dengan rasisme, yakni ketika superioritas atau keunggulan dinilai sekadar dari ciri-ciri biologis atau kedaerahan: antara kulit hitam dan berwarna, antara orang dari daerah A dan orang dari daerah B, antara pendatang dan pribumi, dan seterusnya.

Kita tentu sering mendengar kisah pembangkangan Iblis kepada Allah yang menolak bersujud hormat kepada Nabi Adam 'alaihissalam. Faktor utama yang membuat Iblis durhaka adalah lantaran ia yang diciptakan dari api merasa lebih baik ketimbang Adam yang tercipta dari tanah. Inilah awal mula kemunculan benih rasisme di kalangan makhluk, ketika kualitas diri dihitung hanya dari pembedaan antara ras api dan ras tanah. Atas sikap takaburnya ini, Iblis dilempar keluar dari surga dan menjadi makhluk paling dilaknat.

Kesalahan pokok Iblis adalah hanya memandang Adam sebagai Adam, bukan Adam sebagai manusia ciptaan Allah yang sekaligus dimuliakan-Nya. Menganggap remeh Nabi Adam sama artinya menghina penciptanya. Apalagi secara tegas Allah berfirman: Wa laqad karramnâ banî âdam (sungguh telah Kami muliakan manusia). Rupanya Iblis la'natullah 'alaih tidak hirau. Ia memilih jalur ingkar dan hingga kini terus menabur teladan buruknya itu ke seluruh umat manusia.

Lantas apa yang mesti kita perhatikan agar terhindar dari rasisme yang menjerumuskan itu? Setidaknya ada tiga poin yang harus diterapkan. Pertama, menyadari bahwa standar kemuliaan manusia bukanlah fisik melainkan ketakwaan. Pemahaman ini merujuk pada firman Allah:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقۡنَٰكُم مِّن ذَكَرٖ وَأُنثَىٰ وَجَعَلۡنَٰكُمۡ شُعُوبٗا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓاْۚ إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٞ 

Artinya: "Wahai manusia! Sungguh Kami telah menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan perempuan, kemudian Kami jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti" (QS al-Hujurat: 13).:

Dengan demikian, di luar ketakwaan setiap manusia adalah setara. Tidak boleh didiskriminasi atau pun dilecehkan hak-haknya, baik karena kemiskinanannya, ketidaktahuannya, serta identitas agama, suku, atau rasnya. Bagaimana kita mengukur ketakwaan orang lain? Tidak ada parameter paling akurat kecuali Allah sendiri yang Mahatahu. Takwa seseorang lebih banyak berasal dari kedalaman hati, dan inilah yang paling diperhitungkan Allah dalam diri manusia. Selaras dengan ayat di atas adalah sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang artinya :

Artinya: "Sesungguhnya Allah tidak memperhatikan badan dan rupa kalian, melainkan Dia memperhatikan hati kalian."

Poin kedua yang juga penting dicatat adalah: lebih banyaklah fokus pada kekurangan diri sendiri dari pada kekurangan orang lain. Muhâsabah atau introspeksi akan menjadikan orang lebih sibuk dengan ikhtiar memperbaiki diri ketimbang mengoreksi orang lain. Keuntungannya, yang terjadi kemudian adalah berlomba dalam kebaikan (fastabiqûl khairat; berkompetisilah dalam kebaikan!), bukan berlomba saling menjatuhkan. Menghina atau meremehkan orang lain sama sekali tak membuat diri kita semakin mulia, justru mungkin sebaliknya. Sebab, kemuliaan manusia sejatinya lebih sering tersirat daripada tampak secara kasat mata. Syekh Muhammad Ali al-Bakri dalam Dalîlul Fâlihîn li Thuruq Riyâdlis Shâlihîn mengatakan "Kadang, orang ‘remeh’ di mata manusia memiliki kapasitas lebih besar di sisi Allah dari pada kebanyakan orang yang diagung-agungkan di dunia."  

Ketiga, penting bagi kita untuk mengasah kepekaan terhadap nilai-nilai kesetaraan dengan memperbanyak bergaul atau berdialog dengan orang lain yang berbeda. Betapa banyak ketersinggungan, kebencian, dan tindak menyakiti orang lain dilatari komunikasi yang buntu. Dengan membuka komunikasi, kita akan terhindar dari kecurigaan, salah paham, atau perbuatan menyinggung yang (meskipun) tak disengaja. Inilah nilai utama dari potongan surat al-Hujarat yang disebut tadi:

 Lita'ârafû atau supaya saling mengenal menjadi tujuan kunci dari diciptakannya manusia yang bermacam-macam jenis kelamin, suku, dan bangsa. Semangat ini pula yang dicontohkan Nabi saat hijrah beliau sampai pertama kali di Madinah. Beliau mencairkan perbedaan kabilah dan dikotomi pribumi-pendatang dengan mempersaudarakan mereka dalam satu ikatan.

Semoga kita semua dianugerahi kekuatan oleh Allah untuk senantiasa meneladani Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang sangat manusiawi dan memanusiakan manusia. 

Minggu, 08 November 2020

JANGAN SUKA MENGGUNJING DI MEDSOS

Pada kesempatan yang mulia ini, di tempat yang mulia ini, saya berwasiat kepada pribadi saya sendiri dan juga kepada para hadirin sekalian, marilah kita senantiasa meningkatkan takwa kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan selalu berusaha melaksanakan perintah-perintah-Nya serta menjauhkan diri dari larangan-larangan-Nya. Semoga usaha takwa kita akan selalu terbawa sepanjang hayat sehingga kelak usaha tersebut dapat menghantarkan kita saat dipanggil Allah subhanahu wa ta’ala dalam keadaan mati husnul khatimah, amin ya Rabbal Alamin.  

Kita sekarang berada di zaman informasi tanpa sekat ruang dan waktu. Sebuah kejadian di belahan bumi yang lain, misalnya di Amerika, Jepang dan sebagainya, pada menit itu pula bisa kita mengakses informasinya tanpa menunggu beberapa hari kemudian. Hal ini tercipta dengan mudah setelah berkembangnya teknologi informasi dan media sosial (medsos) di tangan mayoritas masyarakat dunia.

Bagai pedang bermata dua, di satu sisi, atas segala kemudahan penyebaran informasi, kita patut bersyukur karena media mencari informasi keilmuan terbuka luas, komunikasi bisnis sangat terbantu. Namun, di satu sisi lain, lewat medsos pula, orang bisa menjadi mudah melanggar norma-norma agama maupun tatanan sosial masyarakat.

Dahulu orang hanya bisa membicarakan keburukan orang lain harus menunggu bertemu dan bertatap muka dengan lawan bicaranya terlebih dahulu, bicaranya terbatas dengan waktu dan itu pun pendengarnya hanya terbatas beberapa orang saja. Kini, dengan hadirnya medsos, seseorang bisa menceritakan kekurangan orang lain hanya dengan apa yang ada dalam genggaman tangan, melalui tulisan, gambar, atau video yang bisa diproduksi dalam hitungan menit. Dalam waktu sebentar saja konten itu lalu menyebar ke mana-mana. Jutaan orang bisa mengakses dan hebatnya lagi, gunjingan di media sosial tidak akan pernah hilang sebelum dihapus.

Menceritakan keburukan orang lain, dalam agama Islam dikenal dengan istilah ghîbah. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah diceritakan, suatu ketika Rasulullah pernah bertanya kepada para sahabat:

أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ؟  

“Apakah kalian tahu apa itu ghibah?”  

Para sahabat menjawab:  

 اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ  

 “Allah dan Rasulnya yang lebih tahu”   Kemudian Nabi menjawab:  

 ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ  

”Ghibah adalah ketika kamu mengisahkan teman kamu tentang suatu yang tidak ia sukai.  

Lalu ada yang tanya kepada Nabi:  

 أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُولُ؟  

“Bagaimana kalau yang saya katakan itu memang sesuai faktanya, Ya Rasul?”  

 إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ، فَقَدِ اغْتَبْتَهُ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ  

“Ya kalau memang yang kamu katakan itu fatka, berarti kamu menggujingnya. Namun jika yang kamu bicarakan tidak sesuai fakta, maka kamu membuat kedustaan terhadap dirinya” (HR Muslim).  

Dalam pergaulan kekeluargaan dan masyarakat, kemungkinan besar kita akan menemukan kekurangan-kekurangan orang di sekitar kita. Dan itu wajar, karena di sekeliling kita adalah manusia. Tak ada manusia tanpa kekurangan di dunia ini. Jika harus menuntut adanya manusia suci tanpa salah, seharusnya tuntutan tersebut terlebih dahulu untuk diri kita sendiri ketimbang orang lain. Apabila kita kerap mengaku, “Wah, saya ini manusia biasa yang terkadang tergelincir pada salah dan dosa”, seharusnya seperti ini pula kita bersikap kepada orang lain. Jangan kalau kita melakukan kesalahan minta dianggap wajar, tapi giliran orang lain yang melakukan kesalahan, tidak kita salahkan dan gunjing habis-habisan.

Seseorang yang tidak mudah menganggap wajar kesalahan orang lain, ia akan mudah menceritakan kesalahan-kesalahan mereka. Sekarang, fasilitas yang paling praktis untuk menceritakan orang lain cukup banyak, mulai dari WA, Facebook, Instagram, Twitter, Youtube dan lain sebagainya. Peluang untuk mengungkapkan isi hati atau menceritakan kekurangan orang lain menganga besar.

Artinya: “Di antara maksiat tangan adalah menuliskan satu hal yang haram diucapkan” (Syekh Muhammad bin Salim Ba-Bashil, Is’adur Rafiq, juz 2, hal. 105)

Lebih jauh beliau melanjutkan bahwa menggunjing dan jenis dosa menulis yang lain justru dosanya lebih besar dan lebih langgeng. Sebab apa? Karena potensi jangkauan maksiat tersebut lebih luas, dan tidak akan bisa hilang dalam sekejap. Berbeda dengan ucapan, sekali disampaikan, langsung tidak ada bekasnya. Walaupun kebencian yang ditebar juga tetap berbahaya.

Oleh karena itu, baik melalui chat, telepon, video, sepanjang ada unsur menggunjingnya, hukumnya adalah haram. Keharaman ini berlaku baik menggunjing sesama Muslim atau pun menggunjing non-Muslim yang mereka tidak menyakiti kita.

Dalam kitab Az-Zawajir, Ibnu Hajar al-Haitami menceritakan bahwa Imam al-Ghazali pernah ditanya tentang hukum menggunjing non-Muslim. Kemudian Imam al-Ghazali menjawab:  

هِيَ فِي حَقِّ الْمُسْلِمِ مَحْذُورَةٌ لِثَلَاثِ عِلَلٍ  

“Bagi seorang Muslim menggunjing orang kafir dilarang karena tiga alasan.”  

 الْإِيذَاءُ  

Pertama yaitu menyakiti hatinya. Menyakiti hati orang lain, selama dia tidak menyakiti kita, baik itu Muslim atau non-Muslim, tidak dibenarkan.  

 وَتَنْقِيصُ خَلْقِ اللَّهِ، فَإِنَّ اللَّهَ خَالِقٌ لِأَفْعَالِ الْعِبَادِ 

Kedua, menganggap kurang ciptaan Allah. Padahal Allah-lah yang menciptakan semua gerak-gerik hamba-hamba-Nya. (Menjelek-jelekkan non-Muslim di luar urusan keyakinannya, sama juga menganggap ada yang kurang sempurna pada ciptaan Allah).  

وَتَضْيِيعُ الْوَقْتِ بِمَا لَا يُعْنِي

Katiga, boros waktu untuk hal-hal yang tidak berguna.  

Lebih lanjut, Imam Ghazali juga menyatakan:  

 وَأَمَّا الذِّمِّيُّ فَكَالْمُسْلِمِ فِيمَا يَرْجِعُ إلَى الْمَنْعِ مِنْ الْإِيذَاءِ،؛ لِأَنَّ الشَّرْعَ عَصَمَ عِرْضَهُ وَدَمَهُ وَمَالَهُ.

 Kafir dzimmi (non-Muslim yang tidak memerangi orang Muslim) hukumnya berlaku sebagaimana orang Islam dalam hal masing-masing tidak boleh disakiti. Sesungguhnya syara’ melindungi kehormatan, darah dan hartanya. (Ibnu Hajar al-Haitami, Az-Zawâjir, [Dârul Fikr, Beirut, 1987], juz 2, halaman 27).  

Dalam bermedsos, di antara kita banyak pula yang menjadi silent reader atau pembaca pasif. Tidak pernah menuliskan status di Facebook, tidak pernah berkomentar di WA Group, namun aktif membaca ke sana kemari. Menjadi silent reader pun tak lantas terbebas dari jeratan ghibah,

Sebagai silent reader, kita juga harus berhati-hati dalam memilih berteman, mem-follow atau men-subscribe siapa? Karena apabila kita salah memilih teman, berada pada grup yang keliru, men-subscribe orang-orang yang gemar menggunjing pihak lain, maka kita akan dengan mudah menjadi otomatis membaca berita gunjingan mereka.  

Imam Nawawi dalam kitabnya Hilyatul Anwar wa Syi’arul Abrar mengatakan:  

اِعْلَمْ أَنَّ الْغِيْبَةَ كَمَا يَحْرُمُ عَلَى الْمُغْتَابِ ذِكْرُهَا، يَحْرُمُ عَلَى السَّامِعِ اِسْتِمَاعُهَا وَإِقْرَارُهَا

 “Menyimak sebuah gunjingan dan membiarkannya itu sama haramnya dengan menggunjing itu sendiri. Bagi penyimak jika mempunyai kemampuan harus mencegah, memberikan nasihat kepada pembuat konten. Minimal, jika tidak mampu manangkal, hatinya harus inkar dan meninggalkan majelis tersebut. Dalam konteks medsos, apabila ada postingan yang arahnya membicarakan keburukan orang lain, segera pindah ke konten lain yang lebih bermanfaat. Jangan justru gunjingan tersebut dibaca sampai selesai.  

Allah berfirman dalam Al-Qur’an:  

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ  

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang” (QS Al-Hujurat: 12).  

Dalam sebuah hadits, Nabi bersabda:  

يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ، وَلَمْ يَدْخُلِ الْإِيمَانُ قَلْبَهُ، لَا تَغْتَابُوا الْمُسْلِمِينَ، وَلَا تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ، فَإِنَّهُ مَنِ اتَّبَعَ عَوْرَاتِهِمْ يَتَّبِعُ اللَّهُ عَوْرَتَهُ، وَمَنْ يَتَّبِعِ اللَّهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ فِي بَيْتِهِ»  

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman dengan lisannya akan tetapi iman belum masuk kedalam hatinya, janganlah kalian mengghibahi kaum muslimin, dan janganlah pula mencai-cari aib mereka, sesungguhnya barang siapa yang mencari-cari aib saudaranya sesama muslim maka Allah akan mencari-cari kesalahannya, dan barangsiapa yang Allah mencari-cari kesalahannya maka Allah akan mempermalukannya meskipun ia berada di dalam rumahnya". (HR Abu Dawud)