Mei, 19 2020
Pendahuluan
Akhir tahun 2019 dunia dikejutkan dengan adanya penyebaran corona virus
yang dikenal dengan covid-19. Dinamakan demikian karena kemunculannya di akhir
tahun 2019. Virus ini pertama kali ditemukan endemic di kota Wuhan, provinsi Hubei,
RRC. Awalnya diduga berasal dari hewan kelelawar sebagai inangnya yang berpindah
pada manusia pemakan kelelawar. Selain pendapat ini, ada juga yang mengatakan
kalau covid 19 merupakan mutasi dari virus SARS yang juga pertama kali ditemukan
di Cina pada tahun 2002, yang cepat menyebar ke berbagai negara, walaupun bukan
pandemi, dan kemudian virus ini bahkan sempat hilang di tahun 2004.
Dalam kenyataannya ternyata virus ini tidak benar-benar hilang, bahkan
dalam masa inkubasinya virus dapat menular pada manusia, dan bisa berpindah
kepada orang lain melalui tangan orang sehat yang berpegangan tangan, atau berbagai
barang yang terkena virus orang sakit, melalui percikan batuknya. Tangan dan jemari
manusia yang menjadi alat transportasi virus masuk ke tubuh manusia. Sejauh ini
menurut para ahli, virus ini tidak berpindah melalui udara.
Di Cina sendiri dalam tempo singkat perpindahan virus dari orang sudah lintas
provinsi, yang berlanjut lintas negara dan kini lintas benua. Sampai akhirnya WHO
pada tanggal 12 Maret 2020 telah menyatakan sebaran virus covid-19 sebagai
pandemic. Tercatat 156 negara dan telah menginfeksi sebanyak 167.740 orang,
meninggal 6.456 orang, dan sembuh 76.598 orang, sedangkan 5.811 orang dalam
kondisi kritis
Kajian Litelatur Tafaqur Bil-Qur'an dalam Masa Pandemi Covid-19
Tafakkur dalam bahasa Arab diartikan sebagai tindakan berpikir untuk menjembatani persepsi dan konsepsi dari kehidupan dunia ini ke kehidupan akhirat, dan dari makhluk ke Penciptanya, yaitu Allah Swt. Tafakkur melampaui hidup ini ke wilayah lebih luas, akhirat, dan melampaui kedangkalan materialisme menuju horizon lebih dalam, yaitu “ruh” yang dapat memotivasi seluruh aktivitas eksternal dan internal kaum muslim. Menurut Ibn Khaldun di dalam buku Mukadimmah mempunyai pengertian yang cukup luas. Pendidikan bukan hanya merupakan proses belajar mengajar yang dibatasi oleh empat dinding, tetapi pendidikan adalah suatu proses dimana manusia secara sadar menangkap, menyerap, dan menghayati peristiwa-peristiwa alam sepanjang zaman. Penelitian ini bertujuan untuk mentafakkuri wabah corona virus Covid 19 dengan pendekatan perspektif Pendidikan Islam. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan literature review. Hasil penelitian menemukan bahwa tafakkur corona virus Covid 19 dalam perspektif Agama Islam menghasilkan temuan melalui, yaitu; pertama, karantina yaitu mengisolasi daerah yang terkena wabah adalah sebuah tindakan yang tepat; Kedua, bersabar; Ketiga, berbaik sangka dan berikhtiarlah; Keempat, banyak berdoalah.
Pandangan Alquran mengenai manusia sebagai khalifah memiliki tugas mulia
dan misi besar untuk dijalankan di muka bumi, sebagaimana dikemukakan dengan
jelas di dalam beberapa ayat Alquran, salah satunya di dalam QS. Az-Zariyat (51) ayat
56: “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
Berdasarkan hal ini-lah bertafakkur tentunya menjadi salah satu ciri penting,
bukan saja yang membedakan manusia dengan mahluk lainnya, tetapi juga menjadi
salah satu prasyarat melaksanakan peran penting sebagai khalifah, untuk mengemban
pembangunan peradaban sekaligus pembawa visi misi di muka bumi. Dalam istilah
Arab, tafakkur artinya berpikir. Menurut Al-Fairuzabadi, salah seorang linguistic
Muslim awal terkemuka, al-fikr (pikiran) adalah refleksi atas sesuatu: afkar adalah
bentuk jamaknya. Menurut pandangannya, fikr dan tafakkur adalah sinonim dan
keduanya memiliki makna sama.
Menurut Profesor Malik Badri, seorang psikolog Muslim kontemporer,
menjelaskan perbedaan antara tafkir dan tafakkur. Tafakkur lebih dalam dan lebih luas
ketimbang tafkir. Tafakkur menjembatani persepsi dan konsepsi dari kehidupan dunia
ini ke akhirat dan dari makhluk ke Penciptanya, Allah Swt. Perantaraan ini dikenal
dengan i’tibar. Jadi, tafkir bisa jadi terbatas pada pemecahan masalah hidup kita saat ini
yang tak melibatkan emosi, namun, tafakkur melampaui hidup ini ke wilayah lebih
luas, akhirat, dan melampaui kedangkalan materialisme menuju horizon lebih dalam,
“ruh”, dan dengan demikian tafakkur memotivasi seluruh aktivitas eksternal dan
internal kaum muslim.3
Di dalam Alquran terdapat 18 kali yang mengulang-ulang
mengenai taffakur, salah satunya Allah Swt menyampaikan Firman-NYA di dalam QS.
An-Nahl (16) ayat 11: “Dengan (air hujan) itu Dia menumbuhkan untuk kamu tanamtanaman, zaitun, kurma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sungguh, pada yang
demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berpikir.
Adapun pengertian Pendidikan Islam menurut Muhaimin dapat dipahami
dalam beberapa perspektif, yaitu:
Pertama; Pendidikan menurut Islam, atau pendidikan yang berdasarkan Islam
dan sistem pendidikan yang Islami, yakni pendidikan yang dipahami dan
dikembangkan serta disusun dari ajaran dan nilai-nilai fundamental yang terkandung
dalam sumber dasarnya, yaitu Al-quran dan Al-sunnah/hadits. Dalam pengertian yang
pertama ini, pendidikan Islam dapat berwujud pemikiran dan teori pendidikan yang
mendasarkan diri atau dibangun dan dikembangkan dari sumber-sumber dasar
tersebut.
Kedua; Pendidikan ke-Islaman atau pendidikan agama Islam, yakni upaya
mendidikan agama Islam atau ajaran Islam dan nilai-nilainya, agar menjadi way of life
(pandangan dan sikap hidup) seseorang. Dalam pengertian yang kedua ini dapat
berwujud (a) segenap kegiatan yang dilakukan seseorang dalam membantu seorang
atau sekelompok peserta didik dalam menanamkan dan menumbuhkembangkan
ajaran Islam dan nilai-nilainya untuk dijadikan sebagai pandangan hidupnya, yang
diwujudkan dalam sikap hidup dan dikembangkan dalam keterampilan hidupnya
sehari-hari; (b) segenap fenomena atau peristiwa perjumpaan antara dua orang atau
lebih yang dampaknya ialah tertanamnya and tumbuh kembangnya ajaran Islam dan
nilai-nilainya pada salah satu atau beberapa pihak.
Ketiga: Pendidikan dalam Islam, atau proses dan praktik penyelenggaraan
pendidikan yang berlangsung dan berkembang dalam sejarah umat Islam. Dalam arti
proses bertumbuhkembangnya Islam dan umatnya, baik Islam sebagai agama, ajaran
maupun sistem budaya dan peradaban, sejak zaman Nabi Muhammad Saw sampai
sekarang. Jadi dalam pengertian yang ketiga ini istilah “pendidikan Islam” dapat
dipahami sebagai proses pembudayaan dan pewarisan ajaran agama, budaya dan
peradaban umat Islam dari generasi ke generasi sepanjang sejarahnya.
Pendidikan Islam menurut Ahmad Tafsir berpendapat bahwa pendidikan
agama Islam adalah bimbingan yang diberikan seseorang kepada seseorang agar ia
berkembang secara maksimal seusia dengan ajaran Islam. Sedangkan menurut Ibn
Khaldun di dalam buku Mukadimmah mempunyai pengertian yang cukup luas.
Pendidikan bukan hanya merupakan proses belajar mengajar yang dibatasi oleh empat
dinding, tetapi pendidikan adalah suatu proses, dimana manusia secara sadar
menangkap, menyerap, dan menghayati peristiwa-peristiwa alam sepanjang zaman.
Dari beberapa pengertian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa pendidikan
Islam adalah usaha-usaha dalam mendidikan Islam secara terencana melalui
pengalaman, pengetahuan, kecakapan, dan keterampilan, sehingga peserta didik
dapat mengenal, memahami, menghayati dan mengimani ajaran Islam.
Hasil dan Pembahasan
Sebagai orang yang beriman dengan memahami pengertian tafakkur dan
pendidikan Islam di atas dalam menghadapi Coronavirus Covid-19, yang merupakan
virus yang pertama kali ditemukan di Wuhan Cina pada Desember 2019. Kita semua
dapat bertafakkur juga dengan kisah yang pernah terjadi saat zaman kekhalifahan
Umar bin Khattab, dimana pada zaman pemerintahan beliau ini pernah terjadi wabah
yang bermula di daerah Awamas, sebuah kota sebelah barat Yerussalem, Palestina,
sehingga dinamakan demikian. Di dalam buku biografi Umar bin Khattab karya
Muhammad Husein Haekal menjelaskan, wabah tersebut menjalar hingga ke Syam
(Suriah), bahkan ke Irak. Diperkirakan kejadian wabah ini akhir 17 Hijriah, dan
memicu kepanikan massal saat itu. Di dalam sebuah hadis yang disampaikan
Abdurrahman bin Auf mengenai sabda Nabi SAW: “Apabila kalian mendengar wabah
tha’un melanda suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Adapun apabila penyakit
itu melanda suatu negeri sedang kalian kalian di dalamnya, maka janganlah kalian lari keluar
dari negeri itu.” (Muttafaqun ‘alaihi, HR. Bukhari & Muslim).
Pada akhirnya wabah tersebut berhenti ketika sahabat Amr bin Ash ra
memimpin Syam. Kecerdasan beliau-lah dan dengan ijin Allah Swt yang
menyelamatkan Syam. Amr bin Ash berkata: “Wahai sekalian manusia, penyakit ini
menyebar layaknya kobaran api. Maka hendaklah berlindung dari penyakit ini ke
bukit-bukit!”. Saat itu seluruh warga mengikuti anjurannya. Amr bin Ash dan para pengungsi terus bertahan di dataran-dataran tinggi hingga sebaran wabah Amawas
mereda dan hilang sama sekali.
Dari kisah di atas kita semua dapat belajar dari orang-orang terbaik bersikap,
dan juga yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Apa yang dapat kita ambil
ibrah atau pembelajarannya adalah:
Pertama, karantina.
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW diatas, itulah konsep karantina yang hari ini
dikenal. Mengisolasi daerah yang terkena wabah, adalah sebuah tindakan yang tepat.
Kita bisa melihat dari sebuah tabel dibawah ini, bersumber dari harian Washington
Post.
Keterangan bebasnya dapat diartikan sebagai berikut, searah jarum jam:
1) Orang bergerak bebas, dimana orang menularkan corona secara bersamaan.
2) Kurva kedua dilakukan lockdown, sehingga ada waktu untuk bisa melakukan
penyembuhan secara bertahap.
3) Kurva ketiga dilakukan “social distancing”, dengan berdiam diri di rumah dan
mengurangi berbagai kegiatan sementara waktu.
4) Kurva keempat dilakukan dengan sangat extreme, dengan melakukan jam
malam dan sangat ketat, untuk tidak keluar rumah bahkan diberikan jam
waktu.
Kedua, bersabar.
Di dalam sebuah hadis riwayat Imam Bukhari diceritakan, suatu kali Aisyah
bertanya kepada Nabi SAW tentang wabah penyakit. Rasulullah SAW bersabda,
“Wabah penyakit itu adalah orang-orang yang DIA kehendaki. Allah menjadikannya
sebagai rahmat bagi orang-orang yang beriman. Jika terjadi suatu wabah penyakit, ada
orang yang menetap di negerinya, ia bersabar, hanya berharap balasan dari Allah Swt.
Ia yakin tidak ada peristiwa yang terjadi kecuali sudah ditetapkan Allah. Maka, ia
mendapat balasan seperti mati syahid.”
Ketiga, berbaik sangka dan berikhtiarlah.
Karena Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah Allah SWT menurunkan suatu
penyakit kecuali Dia juga yang menurunkan penawarnya.” (HR. Bukhari).
Dalam kisah Umar bin Khattab berikhtiar menghindarinya, serta Amr bin Ash
berikhtiar menghapusnya. Istilah saat ini dan sedang kita lakukan adalah melakukan “social distancing”, dilansir dari The Atlantic, tindakan yang bertujuan untuk mencegah
orang sakit melakukan kontak dalam jarak dekat dengan orang lain untuk mengurangi
peluang penularan virus. Artinya juga sementara waktu menjauhi perkumpulan,
menghindari pertemuan massal, dan menjaga jarak antar manusia.
Keempat, banyak berdoalah.
Perbanyak doa-doa keselamatan, salah satu contohnya yang sudah diajarkan
Rasulullah Saw untuk dilafadzkan di setiap pagi dan sore berikut ini:
“Bismillahilladzi laa yadhurru maasmihi, say'un fil ardhi walafissamaai wahuwa samiul'alim.”
“Dengan nama Allah yang apabila disebut, segala sesuatu dibumi dan langit tidak
berbahaya. Dialah maha mendengar dan maha mengetahui).
Barang siapa yang membaca dzikir tersebut 3x dipagi dan petang. Maka tidak akan ada
bahaya yg memudharatkannya. (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Berdasarkan pemahaman Spiritualism dan Rasionalism dapat dikatakan juga,
seseorang yang memiliki tingkat spiritual tinggi, maka akan memiliki hormon
endorphin yang lebih banyak dibandingkan dengan yang tingkat spiritual rendah.
Mengapa bisa demikian? Walaupun belum ditemukan penelitian secara ilmiahnya,
namun logikanya secara sederhana bisa kita perhatikan pada orang yang jauh dari
Allah Swt, biasanya mudah mengalami stress, pada kondisi stress hormon yang
bekerja adalah adrenalin, norepinephrine dan kortisol. Hormon stress akan
menyebabkan asam lambung naik, sistem imun turun, sehingga mudah terkena
penyakit. Sebaliknya pada oang-orang yang beriman dan tawakal, hormon oxytocin
bekerja lebih baik, sehingga akan menghasilkan endorphin yang tinggi yang
menimbulkan kedamaian, ketenangan sehingga sistem imun tubuh menjadi lebih kuat.
Terkait dengan wabah coronavirus covid 19 ini, sebagai seorang mu’min, maka
sebaiknya selain melakukan juga ikhtiar karantina atau “social distancing” ini, maka
tingkatkan juga spiritual kita. Jika dapat bertafakkur lebih jauh, sebagai muslim semua
wabah ini adalah sebuah rahmatNYA, sebuah peringatan bagi yang berpikir, untuk
terus menjadikannya sebagai wasilah atau jalan untuk terus banyak mendekatkan diri
kepada Allah Swt, sehingga ketika tingkat kepasrahan tinggi maka akan dirasakan
ketenangan dan dengan segala usaha dan doa keselamatan juga kepada Allah Swt,
dengan selalu melibatkanNYA, dan berharap semua wabah ini akan berakhir, dan
dapat pula segera ditemukan penyebabnya, InshaAllah AamiinYRA. Dialah Allah
Sang Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui
Referensi
Badi, Jamal; Tajdin, Mustapha (2007) Islamic Creative Thingking, Bandung: Mizan
Muhaimin, (2005) Pembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah Madrasah dan
Perguruan Tinggi, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
Siregar, Dr. Abidinsyah (2020) Jakarta: Ahli Utama BKKBN dpk Kemenkes RI/ Ketua
Departemen Kesehatan dan Sanitasi Lingkungan PP DMI/ Ketua PP IPHI/ Ketua PP
ICMI/ Dewan Pakar PB IDI.
Khaldun, Ibnu (2014) Mukaddimah, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar
Tafsir, Ahmad (2012) Ilmu Pendidikan Islam, Bandung: Rosda