Sejarah
hoaks atau kabar palsu bisa dikatakan setua sejarah awal-awal diciptakan
manusia. Kita barangkali akrab dengan cerita Nabi Adam 'alaihissalam diciptakan
oleh Allah ﷻ sebagai khalifah. Melalui anugerah ilmu,
Allah memuliakan Nabi Adam di atas malaikat dan iblis. Kemuliaan itu ditandai
dengan perintah-Nya kepada para malaikat dan iblis untuk bersujud (hormat)
kepada Nabi Adam. Ketika itu semua patuh bersujud, kecuali iblis yang sombong.
Dari sinilah permusuhan iblis dan manusia dimulai, termasuk munculnya pertama
kali hoaks dari iblis kepada manusia.
Setelah peristiwa itu Allah memerintahkan
kepada Nabi Adam dan istrinya Hawa untuk tinggal di surga dengan bahagia.
Mereka berdua dibebaskan mengambil makanan apa saja dan dari mana saja tanpa
susah payah. Mereka hanya dilarang mendekati pohon tertentu, apalagi sampai
memakan buahnya. Bila dilanggar, maka keduanya akan masuk golongan yang zalim
dan durhaka. Kisah ini terekam dengan baik dalam Surat al-Baqarah.
Ulama berbeda pendapat tentang nama pohon dan
buah yang dimaksud. Tapi beredar di kalangan kita saat ini nama populer “pohon
atau buah khuldi”. Secara bahasa khuldi berarti keabadian. Kesimpulan ini
mengacu pada kutipan di Surat Taha ayat 120 bahwa setan membisikkan rayuan
jahat kepada Nabi Adam agar mendekati dan memakan buah dari “pohon keabadian”
itu.
فوَسْوَسَ إِلَيْهِ
الشَّيْطَانُ قَالَ يَا آدَمُ هَلْ أَدُلُّكَ عَلَىٰ شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكٍ
لَا يَبْلَىٰ
“Kemudian
setan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: ‘Hai Adam, maukah
saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?’.”
(QS Taha: 120)
Setan
menggoda Adam dan Hawa dengan sebuah pohon yang digambarkan akan memberikan
efek hidup abadi, juga kekuasaan yang berlangsung langgeng. Dari ayat ini kita
tahu bahwa nama “pohon khuldi” bukan pemberian dari Allah, melainkan dari setan
yang tengah dikuasai rasa iri dan dengki terhadap Nabi Adam.
Dalam Surat al-A’raf ayat 20 juga dijelaskan
bagaimana kata-kata setan dalam merayu mereka berdua: "Tuhan melarang kamu
berdua mendekati pohon ini lantaran tidak ingin melihat kalian menjadi malaikat
dan kekal, terus menerima nikmat yang tanpa terputus di dalam surga."
Setan menggoda keduanya agar melanggar perintah Allah. Sehingga pakaian mereka
terlepas dan auratnya terlihat.
Apa yang diembuskan oleh setan kepada Nabi
Adam dan Hawa adalah hoaks. Informasi tersebut memang tampak manis dan
menjanjikan tapi sesungguhnya dusta dan palsu. Kenapa dusta dan palsu? Karena
pada kenyataannya setelah pohon itu didekati dan buahnya dimakan, yang ada
justru keduanya dikeluarkan dari surga. Setan melancarkan cara-cara licik ini
untuk menjerumuskan manusia agar berbuat durhaka kepada Allah.
Ibnu
‘Asyur dalam kitab tafsirnya at-Tahrîr wat Tanwîr menjelaskan bahwa nama indah
“pohon keabadian” sengaja diciptakan setan untuk mengundang daya tarik serta
mengelabui manusia yang memang punya kecenderung untuk bisa hidup lama. Dengan
bahasa lain, nama "pohon keabadian" itu merupakan bagian dari
skenario hoaks yang didesain setan agar Nabi Adam terjerumus dalam
tipuannya.. Inilah episode Adam dan
Hawa kemudian keluar dari kenikmatan dan kemuliaan surga, lalu tinggal di bumi.
Di bumi manusia berkembang biak dan sarat dengan pertikaian, serta
kesenangan-kesenangan yang pasti fana.
Usai sadar bahwa dirinya tergelincir oleh hoaks yang diiming-imingkan
setan, Nabi Adam segera bertobat.
فَتَلَقَّىٰ آدَمُ مِنْ
رَبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
"Kemudian
Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima tobatnya.
Sesungguhnya Allah Maha-Penerima tobat lagi Maha-Penyayang." (QS
al-Baqarah: 37)
Demikianlah bahaya hoaks. Ia lebih dari
sekadar mengelabui pengetahuan, melainkan juga menurunkan kemuliaan manusia.
Beda hoaks dengan kabar keliru biasa (yang tak sengaja) terletak pada niatan
buruk yang mendorongnya. Dan itulah yang dilakukan iblis kepada manusia
pertama. Iblis memang telah dikutuk
karena membangkang dari perintah Allah untuk bersujud (hormat) kepada Nabi
Adam. Namun, sebagaimana diungkapkan dalam Surat al-A’raf ayat 14-17, iblis
telah meminta kesempatan Allah untuk diberi hidup sampai hari kebangkitan, dan
Allah mengabulkan permintaannya.
Selanjutnya iblis bersumpah akan menyesatkan
keturunan Adam. Ia bertekad akan memalingkan manusia dari jalan kebenaran
dengan menggunakan segala cara. Tidak
aneh bila perbuatan kotor iblis, seperti menyebar hoaks, masih kita temui
hingga sekarang, bahkan mungkin sampai hari kiamat datang. Ini adalah buah
kerja keras iblis dalam menggoda manusia agar menempuh jalan sesat.
Islam sangat peduli dengan kejujuran dan
kebenaran. Agama luhur ini mengajarkan tiap orang yang menerima kabar dari
sumber yang tidak jelas untuk melakukan tabayun atau klarifikasi. Pastikan
berita yang diterima benar-benar akurat. Setelah diyakini akurat pun tidak
serta merta boleh langsung menyebarkannya lagi sebelum benar-benar yakin akan
berdampak maslahat, minimal tidak menimbulkan mudarat.
Di era media sosial yang sangat bebas ini
peluang untuk berbuat salah pun semakin luas. Kebebasan yang tak terkendali
bisa jadi tidak membawa berkah malah menjadi musibah bagi pemiliknya. Mari jaga
hati, pikiran, lisan, dan tangan agar selamat dari langkah-langkah setan. Dalam
Islam kita diajarkan bahwa tiap gerak kita tak luput dari pengawasan Allah ﷻ dan karena itu tidak akan luput dari
pertanggungjawaban di akhirat kelak.
Imam Syafi’i pernah berkata dalam kitab
Ar-Risâlah:
أَنَّ الْكَذِبَ
الَّذِيْ نَهَاهُمْ عَنْهُ هُوَ الْكَذِبُ الْخَفِيُّ، وَذَلِكَ الحَدِيْثُ
عَمَّنْ لَا يُعْرَفُ صِدْقُهُ
“Sesungguhnya
kebohongan yang juga dilarang adalah kebohongan tak terlihat (kadzib khafi),
yakni menceritakan kabar dari orang yang tak jelas apakah ia jujur atau
tidak.”
Bila menyebar informasi yang masih samar-samar
tingkat akurasinya saja kita sudah bisa divonis berbohong, apalagi bila kita
dengan sengaja menyebarkan berita yang jelas-jelas hoaks. Kedengkian iblis
kepada Nabi Adam jangan sampai menjadi teladan bagi umat sekarang, sehingga
antarsesama saudara sebangsa pun harus saling memusuhi dan menjatuhkan. Wallahu
a’lam bish shawab.
بَارَكَ الله لِي
وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ
آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ
وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ،