Selasa, 30 November 2021

Ittiba’ Toleransi Beragama Baginda Nabi Muhammad SAW.


Pertama kali khatib ingin berwasiat kepada diri khatib pribadi dan segenap kaum Muslimin yang hadir agar kita senantiasa meningkatkan rasa iman dan takwa kita kepada Allah SWT. Takwa dalam artian yang sebenar-benarnya, yaitu takwa yang menjadi spirit dari segala perkataan yang kita ucapkan dan perbuatan yang kita lakukan, sehingga diri ini terjaga dari setiap perkataan yang menyayat dan perbuatan yang menyinggung orang lain. Begitu juga, takwa yang mendorong kita untuk selalu merasakan kehadiran Tuhan dekat dengan kita, sehingga tidak sedetikpun diri ini lalai dari mengingat-Nya.

Semoga kita semua dikaruniai sifat takwa yang seperti ini. Amin,! Tidak diragukan lagi bahwa Islam sangat menganjurkan sikap toleransi, tolong-menolong, hidup yang harmonis dan dinamis di antara umat manusia tanpa memandang agama, bahasa, dan ras mereka. Ayat (Q.S. al-Mumtahanah: 8-9) di atas menjadi bukti nyata akan hal itu. Allah SWT berfirman “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak (pula) mengusirmu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Allah hanya melarang kamu menjadikan mereka sebagai kawanmu, (yaitu) orang-orang yang memerangimu dalam urusan agama dan mengusirmu dari kampung halamanmu, serta membantu (orang lain) untuk mengusirmu.

Barangsiapa yang menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” Imam al-Syaukani menjelaskan bahwa ayat tersebut mengandung makna bahwa Allah tidak melarang umat Islam untuk berbuat baik kepada kafir dhimmi yaitu orang-orang non Muslim yang mengadakan perjanjian dengan umat Islam dalam menghindari perperangan dan tidak membantu non-Muslim lainnya dalam memerangi umat Islam. Di samping itu, ayat di atas juga menunjukkan bahwa Allah tidak melarang kita untuk bersikap adil dalam bermuamalah dengan mereka. Hal senada juga diungkapkan oleh Imam Ibn Katsir dalam tafsirnya, bahwa Allah tidak melarang umatnya untuk berbuat baik kepada orang-orang kafir yang tidak memerangi mereka dalam masalah agama, seperti berbuat baik dalam persoalan perempuan dan orang lemah. Berdasarkan hal itu, Ali Mustafa Yaqub dalam sebuah bukunya menegaskan bahwa ayat ini merupakan dalil yang mewajibkan umat Islam untuk berbuat baik kepada non Muslim, selama mereka tidak memerangi dan mengusir umat Islam dari negeri mereka serta tidak membantu orang lain untuk mengusir umat Islam dari negeri mereka. Bahkan Nabi Muhammad SAW mengancam umat Islam yang memerangi non Muslim yang seperti ini dengan peringatan keras dan tegas untuk tidak memasukkan mereka ke dalam sorga. Dalam sebuah hadis riwayat Bukhari, Rasulullah bersabda:

 مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرِحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ وَإِنَّ رِيحَهَا تُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ أَرْبَعِينَ عَامً

“Barangsiapa yang membunuh non-Muslim yang terikat perjanjian dengan umat Islam, maka ia tidak akan mencium keharuman sorga. Sesungguhnya keharuman sorga itu bisa dicium dari jarak 40 tahun perjalanan di dunia.” (H.R. Bukhari)

Kaum Muslimin yang berbahagia! Dalam catatan sejarah diceritakan juga bagaimana santunnya Nabi ketika bergaul dengan orang-orang Yahudi dan kaum munafik ketika berada di Kota Madinah pascahijrah. Rasulullah tetap menerima sikap lahiriah mereka dan membiarkan para ahli kitab untuk memeluk agamanya dengan bebas. Bahkan beliau melarang para sahabatnya untuk memerangi dan menyakiti mereka. Banyak hadis-hadis sahih yang menjelaskan sikap toleransi yang dipegang teguh oleh Nabi ketika berinteraksi dengan orang-orang non Muslim di sekitarnya. Misalnya saja kisah Nabi yang pernah menggadaikan baju perangnya kepada Abu Syahm, seorang Yahudi. Begitu pula dengan sikap beliau dalam bergaul dengan sebagian tamu-tamu perempuan Yahudi serta keramahan beliau ketika menyambut orang-orang Nasrani Najran di Masjid Nabawi sebagaimana tersebut dalam riwayat Ibn Ishak dan Ibn Sa’ad. Namun Ali Mustafa menegaskan bahwa sikap toleransi yang dimaksud di sini hanyalah dalam masalah keduniaan yang tidak berhubungan dengan permasalahan akidah dan ibadah.

Adapun toleransi dalam masalah-masalah ini, yang menyebabkan seorang Muslim melaksanakan sebagian dari ritual non Muslim seperti Yahudi, Kristen, dan orang-orang musyrik lainnya, baik dalam perkataan, perbuatan, dan akidah adalah terlarang. Kendati demikian, sebagian ulama kontemporer ada yang membolehkan hal-hal seperti mengucapkan selamat hari raya kepada non Muslim selama sang Muslim yang bersangkutan tidak meyakini kebenaran dari ajaran agama mereka. Kaum Muslimin yang berbahagia! Konsep toleransi dalam Islam berbeda dengan paham pluralisme yang digembar-gemborkan oleh sebagian pemikir Muslim belakangan. Mereka menganggap bahwa semua ajaran agama bermuara kepada tujuan dan maksud yang sama, bahkan mereka menganggap benar semua agama-agama yang ada dan pemeluknya akan masuk surga bersama-sama dengan umat Islam kelak.

Padahal sebenarnya tidak demikian, kita harus jeli dalam memahami persoalan ini. Memang benar Islam mengakui adanya pluralitas agama dengan dalil firman Allah SWT dalam surat al-Kafirun ayat ke-6 yang berbunyi:

 لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

“Untukmu agamamu dan untukku agamaku”. Ayat ini turun ketika sekelompok kafir Quraisy datang menghadap Nabi SAW, lalu mengajak Nabi untuk menyembah tuhan mereka selama satu tahun dan mereka pun akan menyemabah sesembahan Nabi yaitu Allah SWT juga dalam waktu satu tahun. Lalu Allah menurunkan ayat ini, sebagai penegasan bahwa Islam tidak mengakui kebenaran ajaran agama-agama selain ajaran Islam sendiri, walaupun Islam mengakui keberadaan agama-agama tersebut.

Sehingga dapat disimpulkan di sini bahwa pengakuan Islam terhadap keberadaan agama lain telah ada semenjak masa Nabi Muhammad SAW sampai saat sekarang. Namun yang perlu digarisbawahi di sini adalah bahwa Islam tidak pernah mengakui kebenaran agama lain. Andaikata Islam mengakui kebenaran agama lain dan para pemeluknya akan masuk sorga bersama umat Islam, maka pelaksanaan dakwah kepada umat manusia tidak diperlukan lagi, karena mereka kelak akan masuk sorga bersama umat Islam. Padahal Nabi pada masa hidupnya senantiasa mendakwahkan Islam kepada setiap orang-orang musyrik yang berada di sekitar beliau, baik dari kalangan raja-raja, bangsawan, rakyat jelata, dan pemimpin-pemimpin non Muslim yang ada pada saat itu. Rasulullah pernah bersabda dalam sebuah hadis riwayat Muslim:

 وَالَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ يَسْمَعُ بِى أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ يَهُودِىٌّ وَلاَ نَصْرَانِىٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِى أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّار 

Demi Allah yang menguasai jiwaku, tidak seorang pun yang mendengar diriku dari umat ini, baik Yahudi maupun Nasrani kemudian ia mati tanpa beriman kepada risalah yang kubawa melainkan ia menjadi penghuni neraka. (H.R. Muslim)

Dengan demikian, letak perbedaan antara toleransi dengan paham pluralisme agama dalam Islam sangat jelas. Islam mengakui dan sangat menganjurkan toleransi antar umat beragama. Namun sebaliknya Islam sangat menentang keras ajaran pluralisme yang membawa kepada keyakinan bahwa semua agama adalah benar. Karena satu-satunya agama di sisi Allah itu hanyalah Islam semata. (Ali ‘Imran: 19).

Senin, 01 November 2021

Etika dalam Membina Kepribadian

Marilah kita senantiasa menjaga kualitas iman dan taqwa dalam hati kita masing-masing karena seseorang bisa bisa menjadi baik itu berangkat dari hatinya masing-masing, seseorang diakatakan baik itu berdasar pada akhlak dan pekerti yang baik.

Dalam hadits yang ditakhrij oleh Abu Dzarr diriwayatkan dari Muadz bin Jabal dari Rasulullah SAW, bersabda :

عن ابى ذر عن معاذ ابن جبل رضي الله عنه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : إِتَّقِ الله َحَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ اَلْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ   رواه الترميذي

Bertaqwalah dimanapun kamu berada. Ikutilah perbuatan jelek dengan perbuatan ,baik, niscaya akan menghapusnya, berakhlaklah kepada manuasia dengan akhlak yang baik” (HR. at-Tirmidzi).

  1. Taqwa kepada Allah dimanapun kita berada

Taqwa dimanapun kita berada adalah suatu perintah yang dianggap mudah tapi sangat sulit diperaktekkan dalam keseharian oleh kepribadian seorang muslim, sebab dalam unsur taqwa kita merasa bahwasannya gerak-gerik kita kita senantiasa diawasi oleh Allah SWT,, ucapan kita, perbuatan kita bahkan uneg-uneg kita yang masih ada dalam hati kita Alloh pun tahu, sebab Allah SWT, mempunyai sifat : عَلِيْمٌ (maha mengetahui),, بَصِيْرٌ(maha melihat) خَبِيْرٌ (maha mengetahui rahasia) dimana semua sifat tersebut menunjukkan kekuasaan Allah dalam meliput semua kegiatan dan aktifitas kita, makanya dalam al-Qur’an dijelaskan :

يَعْلَمُ خَآئِنَةَ ٱلْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِى ٱلصُّدُورُ

 “Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.” (al-Mukmin/al-Ghofir : 19)

Dalam ayat tersebut Allah SWT, senantiasa mengetahui apa-apa yang dapat menipu pandangan manusia dan apa-apa yang ada dalam bathin manusia. Melihat ayat ini berarti kita sebagai manusia hendaknya hati-hati dan waspada dalam bertindak berucap dan berkeinginan.

Diceritakan bahwasannya ada seorang kyai yang sedang menguji ketaqwaan dan keimanan seluruh santrinya, kyai tersebut membuat sayembara kepada santri-santrinya : “siapa yang mampu menyembelih seekor burung tanpa diketahui oleh siapapun, maka akan memperoleh hadiah yang luar biasa”, kyai tersebut memberikan seekor, burung kepada masing-masing santrinya, ketika sayembara dimulai diantara santri ada yang menyembelih burung tersebut di dalam goa, ada yang di atas pohon, ada yang dibalik semak-semak dan di tempat yang sepi, mereka mempunyai inisiatif yang berbeda, ada satu santri yang kritis dan faham bahwasannya seseorang tidak akan  mampu berbuat sesuatu tanpa diketahui siapapun dia sadar sebab Allah Maha Mengetahui :

إنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌۢ بِذَاتِ ٱلصُّدُورِ

“Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati.” (QS. Ali Imron : 119)

Akhirnya satu santri ini membiarkan burungnya tidak disembelih. Ketika sayembara telah selesai mereka berkumpul dan menjelaskan cara dan tempat mereka menyembelih, akhirnya satu santri yang tidak melaksanakan penyembelihan ditanya oleh kyai : “Wahai santri kenapa engkau tidak melaksanakan perintah sayembara padahal engkau ingin menjadi pemenangnya?”. Santri tersebut menjawab : “maaf kyai bukannya aku tidak patuh terhadap perintah panjenengan akan tetapi bagaimana mungkin aku dapat menyembelih seekor burung ini sementara Allah Maha Melihat atas segala perbuatan manusia di dunia baik perbuatan itu ditampakkan maupun dirahasiakan.” Akhirnya kyai membenarkan kepada santri ini dan memberikan hadiah sesuai yang telah dijanjikan.

Dari .kisah ini kita dapat mengambil kesimpulan, bahwasannya dikatakan orang muttaqin adalah orang yang senantiasa waspada dan berhati-hati dalam bertindak dan berucap sebab dia merasa Allah hadir dalam hidupnya sebagaimana al-Qur’an surat al-Hadid : [57] ayat 4 :

 وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

dan dia bersama kamu di mama saja kamu berada. dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. al-Hadid : [57] 4).

Dalam unsur taqwa  ini muncul kesadaran, keikhlasan seseorang dalam melaksanakan ibadah kepada Allah SWT, kesadaran tersebut membangun prinsip bahwasannya hidup adalah untuk mengabdi dan beribadah kepada Allah SWT.  Sebagaimana tujuan Alloh menciptakan makhluk di bumi ini. Hal ini sesuai dengan firman Allah :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنْسَ اِلاَّ لِيَعْبُدُوْنَ

Dan kami tidak menjadikan jin dan manusia kecuali agar mereka menyembahku” (QS. At-Thur : 56)

  1. Ikutilah kejelekan dengan kebaikan

Setiap manusia pernah melakukan kesalahan, keburukan, kejelekan baik disengaja maupun tidak disengaja, sebagaimana sabda Rasul :

كُلُّ بَنِي اَدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَاطِئِيْنَ اَلتَّوَّابُوْنَ.  رواه إبن ماجه.

Setiap bani adam berbuat kesalahan dan sebaik-baik mereka yang membuat kesalahan itu ialah mereka yang mau bertaubat” (HR. Ibnu Majah).

Pemeluk agama Islam senantiasa dianjurkan melakukan kebaikan-kebaikan, dimana kebaikan-kebaikan itu mampu menghapuskan kejelekan-kejelekan baik menghapus dosanya maupun menghapus adanya perilaku keburukan, sebab keburukan tidak pantas kitaDalam Islam kita dianjurkan  berbuat baik, seperti dianjurkan sedekah, menyantuni anak yatim, dianjurkan memperbanyak istighfar, tasbih, takbir, tahlil, tahmid, menganjurkan kebaikan dan meninggalkan keburukan.

Hal ini seiring dengan peristiwa yang dialami para sahabat nabi Muhammad SAW, dimana mereka merasa iri hati terhadap orang-orang yang kaya sebab mereka orang kaya dengan mudah masuk surga dengan modal kekayaannya mampu bersedekah kepada oran lain, sedangkan  sahabat yang miskin tidak mampu bersedakah akibat minimnya ekonomi mereka sehingga sahabat menyampaikan kepada Rasulullah SAW, kemudian Rasulullah saw menjawab : bukankah Alloh telah memberikan kesempatan kepada kalian untuk bersedekah ?

إِنَّ بِكُلِّ تَسْبِيْحَةٍ صَدَقَةً وكُلِّ تَكْبِيْرَةٍ صَدَقَةً وكُلِّ تَحْمِيْدَةٍ صَدَقَةً وكُلِّ تَهْلِيْلَةٍ صَدَقَةً وَأَمْرٍ بِمَعْرُوْفٍ صَدَقَةً وَنَهْيٍ عَنْ مُنْكَرٍ صَدَقَةً وَفِى بُضْعِ اَحَدِكُمْ صَدَقَةً (رواه مسلم)

“Sesungguhnya tiap-tiap tasbih adalah sedekah, tiap-tiap takbir adalah sedekah, tiap-tiap tahmid adalah sedekah, tiap-tiap tahlil adalah sedekah, tiap-tiap memerintahkan kebaikan dan melarang kemungkaran adalah sedekah, dan persetubuhan salah seorang di antara kamu (dengan isterinya) adalah sedekah”

  1. Berakhlak baik kepada sesama manusia

Berbuat baik kepada sangatlah dianjurkan dalam agama. Baik kepada Orang tua, saudara, anak dan tetangga itu termasuk wujud keimanan seseorang kepada Allah SWT., berbuat baik kepada mereka berhukum wajib, bahkan Islam mengajarkan agar kita berbuat baik kepada hewan, sehingga ketika menyembelih hewanpun ada aturan yang diterapkan diantaranya, pisau harus tajam, dihadapkan ke arah kiblat, memberikan bantal penyanggah pada kepala hewan yang akan disembelih dan didahului dengan membaca basmalah dan dua kalimat syahadat. Sehingga  hewan yang akan disembelih merasa tidak teraniaya.

Mudah mudahan khutbah ini memberikan motivasi kepada kita sehingga mampu beramal baik dan menjauhi kemungkaran sehingga hidup kita akan selamat fiddini wad dunya hattal akhiroh amin.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ