Pada momentum yang mulia ini marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan dan keimanan kita pada Allah subhanahu wata’ala melalui upaya terus melakukan ikhtiar untuk menjalankan segala perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya. Pada kesempatan ini pula mari kita senantiasa menyadari dan merenungi betapa banyak nikmat Allah subhanahu wata’ala yang telah dianugerahkan pada kita, bangsa Indonesia. Di tengah beragamnya suku, bangsa, budaya, dan agama, Indonesia senantiasa damai sehingga warganya dapat menjalankan ibadahnya dengan khusu’ tanpa ada yang menggangu.
Mari kita ungkapkan rasa syukur ini
biqauli Alhamdulillâhirabbil ‘âlamîn dan senantiasa sekuat tenaga berusaha
bersama-sama mempertahankan situasi kondusif, damai, dan sentosa ini. Bukan
hanya saat ini saja, namun kita juga harus menanamkan kesadaran ini kepada para
generasi muda untuk senantiasa menjaga
Indonesia agar bisa abadi sampai akhir nanti. Dan di antara usaha untuk
mewujudkan ini adalah dengan senantiasa menjadi warga negara yang baik.
Di antara ikhtiar untuk menjadi warga
negara yang baik, bisa kita lakukan dengan senantiasa menjunjung tinggi hukum
dan perundang-undangan yang berlaku di negara kita. Hal ini akan menciptakan
harmonisasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sehingga terwujud kehidupan
masyarakat yang damai sesuai dengan cita-cita seluruh elemen bangsa. Patuh pada
hukum ini juga merupakan wujud ketaatan kita kepada para pemimpin yang memang
menjadi salah satu perintah Allah. Kita tahu, dalam sebuah negara, sudah tentu
ada seseorang yang diamanahi untuk menjadi pemimpin. Posisi ini bisa diduduki
oleh seseorang sesuai dengan kesepakatan yang dibuat oleh warganya. Ada yang
menggunakan sistem demokrasi, kerajaan, dan sistem-sistem lainnya.
Agar tercipta kelancaran dalam memimpin serta
bisa meraih tujuan bersama dalam bernegara, Allah telah mengingatkan kita semua
untuk menjadi warga negara yang baik dengan menaati ulil amri atau pemimpin. Hal ini difirmankan Allah subhanahu wata’ala
dalam QS An-Nisa: 59
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللهَ
وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ
إِلَى اللهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah
Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika
kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al
Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan
hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik
akibatnya”.
Dalam ayat ini, taat pada ulil amri atau
pemimpin diletakkan di urutan ketiga setelah ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya.
Hal ini bisa kita artikan bahwa ketaatan pada pemimpin memiliki arti yang
sangat penting, selama apa yang menjadi kebijakannya tidak membawa kemudaratan
bagi bangsa. Hal ini sesuai dengan kaidah yang sangat populer yaitu: “La thâ‘t li
makhlûqin fi ma’shiyat al-Khaliq“. Tidak dibenarkan adanya ketaatan kepada
seorang makhluk dalam kemaksiatan kepada Khaliq (Allah).”
Selain taat pada pemimpin dan peraturan
yang ada, warga negara yang baik adalah mereka yang senantiasa hati-hati dalam
bermuamalah dan menerima informasi yang beredar. Apalagi di era digital saat
ini di mana perkembangan teknologi begitu pesat, informasi mengalir deras tiap
detik tanpa kenal batas waktu dan tempat. Informasi yang datang menghampiri
kita ini tidak semua benar. Banyak informasi yang beredar merupakan berita
bohong atau hoaks yang jika kita konsumsi dengan tidak melakukan tabayun
(klarifikasi) maka bisa mengganggu stabilitas dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara. Allah subhanahu wata’ala
berfirman dalam QS Al Hujurat ayat 6:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ
فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا
عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
Artinya: “Hai orang-orang yang
beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah
dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa
mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”.
Setiap kita harus mewaspadai gerakan-gerakan
yang ingin Indonesia tidak damai. Berbagai cara dilakukan oleh segelintir
kelompok melalui berbagai media, khususnya media sosial, untuk menggoyahkan
pola pikir masyarakat agar ikut dengan pemahaman mereka. Propaganda dan agitasi
dilakukan secara masif dengan menghalalkan hoaks dan ujaran kebencian di media
sosial untuk kepentingan mengubah ideologi bangsa. Menggunakan bumbu agama dalam narasi-narasi
yang dibangun di media sosial, kelompok ini mengusung misi mengganti Negara Kesatuan
Republik Indonesia menjadi negara yang berlandaskan agama tertentu.
Hal ini tentu bertentangan dengan
kesepakatan para ulama dan pendiri negara ini yang telah menjadikan Indonesia
sebagai darul mitsaq (negara kesepakatan) dengan Pancasila sebagai kalimatun
sawa (titik temu) yang mempertemukan kebinekaan yang merupakan anugerah dari
Allah untuk negeri ini. Kita harus
terus memupuk kecintaan kita pada bangsa dan tanah air sehingga kita tidak akan
mudah goyah terhadap propaganda kelompok yang ingin mengoyak persatuan bangsa.
Kita perlu menyadari bahwa “hubbul wathan minal iman” (nasionalisme adalah
sebagian dari iman). Agama dan nasionalisme harus saling memperkuat bukan untuk
dipertentangkan
Untuk memaksimalkan wujud syukur terhadap
anugerah Indonesia yang damai ini, sudah seharusnya setiap elemen masyarakat
juga harus terus mengisi kemerdekaan ini dengan hal-hal positif. Hal ini bisa
dilakukan dengan semaksimal mungkin menjalankan peran masing-masing individu
dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Yang menjadi pemimpin harus amanah dan
mampu mengatur yang dipimpin dengan baik. Yang dipimpin juga harus mendukung
para pemimpin dan terus berkiprah sesuai dengan profesinya sehingga Indonesia
akan lebih kuat. Semua elemen bangsa
harus bahu-membahu saling dan membantu untuk mewujudkan masyarakat yang
sejahtera. Setiap individu tidak boleh merugikan orang lain dengan
tindakan-tindakan negatif.
Sebaliknya, setiap individu harus mampu
memberi manfaat bagi orang lain. Rasulullah telah mengingatkan kita dengan
haditsnya:
عن جابر قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:
" الْمُؤْمِنُ آلِفٌ مَأْلُوفٌ وَلا خَيْرَ فِيمَنْ لا يَأْلَفُ وَلا
يُؤْلَفُ خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
Artinya: Dari Jabir, Ia berkata:
”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Orang beriman itu bersikap
ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan
sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR
ath-Thabrani dan Daruquthni).
Hadits ini mengingatkan seluruh elemen bangsa
khususnya umat Islam untuk berbuat baik kepada sesama manusia karena
sesungguhnya tidak ada kebaikan yang bisa diambil jika kita tidak berlaku baik
pada sesama manusia. Mari kita mulai dari hal-hal yang kecil seperti membantu
orang-orang yang membutuhkan di sekitar kita seperti tetangga yang sedang
kesusahan dan lain sebagainya.
Dengan berbuat baik pada orang lain,
mudah-mudahan kita juga menjadi hamba Allah yang disayangi dan juga menjadi
umat Nabi yang baik. Sungguh sangat terpuji akhlak seseorang jika ia bisa
menjadi sebaik-baiknya manusia di muka bumi ini dengan selalu menebarkan
kebaikan. Ma’asyiral Muslimin
rahimakumullah, Demikian khutbah singkat ini, semoga kita bisa menjadi warga
negara yang baik dengan senantiasa berbuat baik untuk menjadikan bangsa ini
lebih baik. Semoga Allah subhanahu wata’ala menjadikan kehidupan kita
senantiasa dalam kebaikan dan kita mampu menjalankan ibadah dengan khusyuk dan
baik. Amin