Marilah kita senantiasa menjaga kualitas iman
dan taqwa dalam hati kita masing-masing karena seseorang bisa bisa menjadi baik
itu dari hatinya masing-masing, seseorang diakatakan baik itu berdasar pada
akhlak dan pekerti yang baik.
Dalam hadits yang ditakhrij oleh Abu Dzarr
diriwayatkan dari Muadz bin Jabal dari Rasulullah SAW, bersabda :
عن ابى ذر عن معاذ ابن
جبل رضي الله عنه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : إِتَّقِ الله َحَيْثُمَا
كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ اَلْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ
بِخُلُقٍ حَسَنٍ رواه الترميذي
“Bertaqwalah dimanapun kamu
berada. Ikutilah perbuatan jelek dengan perbuatan ,baik, niscaya akan
menghapusnya, berakhlaklah kepada manuasia dengan akhlak yang baik”
(HR. at-Tirmidzi).
- Taqwa kepada Allah dimanapun kita berada
Taqwa dimanapun kita berada adalah suatu
perintah yang dianggap mudah tapi sangat sulit diperaktekkan dalam keseharian
oleh kepribadian seorang muslim, sebab dalam unsur taqwa kita merasa
bahwasannya gerak-gerik kita kita senantiasa diawasi oleh Allah SWT,, ucapan
kita, perbuatan kita bahkan uneg-uneg kita
yang masih ada dalam hati kita Alloh pun tahu, sebab Allah SWT, mempunyai sifat
: عَلِيْمٌ (maha mengetahui),, بَصِيْرٌ(maha melihat) خَبِيْرٌ (maha mengetahui rahasia) dimana semua sifat tersebut
menunjukkan kekuasaan Allah dalam meliput semua kegiatan dan aktifitas kita,
makanya dalam al-Qur’an dijelaskan :
يَعْلَمُ خَآئِنَةَ
ٱلْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِى ٱلصُّدُورُ
“Dia mengetahui (pandangan) mata
yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh
hati.” (al-Mukmin/al-Ghofir : 19)
Dalam ayat tersebut Allah SWT, senantiasa
mengetahui apa-apa yang dapat menipu pandangan manusia dan apa-apa yang ada
dalam bathin manusia. Melihat ayat ini berarti kita
sebagai manusia hendaknya hati-hati dan waspada dalam bertindak berucap dan
berkeinginan.
Diceritakan bahwasannya ada seorang kyai yang
sedang menguji ketaqwaan dan keimanan seluruh santrinya, kyai tersebut membuat
sayembara kepada santri-santrinya : “siapa yang mampu menyembelih seekor burung
tanpa diketahui oleh siapapun, maka akan memperoleh hadiah yang luar biasa”,
kyai tersebut memberikan seekor, burung kepada masing-masing santrinya, ketika
sayembara dimulai diantara santri ada yang menyembelih burung tersebut di dalam
goa, ada yang di atas pohon, ada yang dibalik semak-semak dan di tempat yang
sepi, mereka mempunyai inisiatif yang berbeda, ada satu santri yang kritis dan
faham bahwasannya seseorang tidak akan mampu berbuat sesuatu tanpa
diketahui siapapun dia sadar sebab Allah Maha Mengetahui :
إنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌۢ
بِذَاتِ ٱلصُّدُورِ
“Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi
hati.” (QS.
Ali Imron : 119)
Akhirnya satu santri ini membiarkan burungnya
tidak disembelih. Ketika sayembara telah selesai mereka berkumpul dan
menjelaskan cara dan tempat mereka menyembelih, akhirnya satu santri yang tidak
melaksanakan penyembelihan ditanya oleh kyai : “Wahai santri kenapa engkau
tidak melaksanakan perintah sayembara padahal engkau ingin menjadi pemenangnya?”.
Santri tersebut menjawab : “maaf kyai bukannya aku tidak
patuh terhadap perintah panjenengan akan tetapi bagaimana mungkin aku dapat
menyembelih seekor burung ini sementara Allah Maha Melihat atas segala
perbuatan manusia di dunia baik perbuatan itu ditampakkan maupun dirahasiakan.”
Akhirnya kyai membenarkan kepada santri ini dan memberikan hadiah sesuai yang
telah dijanjikan.
Dari .kisah ini kita dapat mengambil
kesimpulan, bahwasannya dikatakan orang muttaqin adalah
orang yang senantiasa waspada dan berhati-hati dalam bertindak dan berucap
sebab dia merasa Allah hadir dalam hidupnya sebagaimana al-Qur’an surat
al-Hadid : [57] ayat 4 :
وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ
مَا كُنتُمْ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
“dan dia bersama kamu di mama
saja kamu berada. dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan.”
(QS. al-Hadid : [57] 4).
Dalam unsur taqwa ini muncul kesadaran,
keikhlasan seseorang dalam melaksanakan ibadah kepada Allah SWT, kesadaran
tersebut membangun prinsip bahwasannya hidup adalah untuk mengabdi dan
beribadah kepada Allah SWT. Sebagaimana tujuan Alloh menciptakan makhluk
di bumi ini. Hal ini sesuai dengan firman Allah :
وَمَا خَلَقْتُ
الْجِنَّ وَاْلإِنْسَ اِلاَّ لِيَعْبُدُوْنَ
“Dan kami tidak menjadikan jin
dan manusia kecuali agar mereka menyembahku” (QS. At-Thur : 56)
2.
Ikutilah kejelekan dengan kebaikan
Setiap manusia pernah melakukan kesalahan,
keburukan, kejelekan baik disengaja maupun tidak disengaja, sebagaimana sabda
Rasul :
كُلُّ بَنِي اَدَمَ
خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَاطِئِيْنَ اَلتَّوَّابُوْنَ. رواه إبن ماجه.
“Setiap bani adam berbuat
kesalahan dan sebaik-baik mereka yang membuat kesalahan itu ialah mereka yang
mau bertaubat” (HR. Ibnu Majah).
Pemeluk agama Islam senantiasa dianjurkan
melakukan kebaikan-kebaikan, dimana kebaikan-kebaikan itu mampu menghapuskan
kejelekan-kejelekan baik menghapus dosanya maupun menghapus adanya perilaku
keburukan, sebab keburukan tidak pantas kita pertahankan oleh manusia,
keburukan menimbulkan kegalauan kecemasan sedangkan setiap manusia menginginkan
ketenangan. Oleh karena Islam adalah agama yang senantiasa memberikan nasehat
menuju kebaikan kepada pemeluknya sebagaimana sabda Nabi :
اَلدِّيْنُ اَلنَّصِيْحَةُ. قُلْنَا لِمَنْ :
للهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُوْلِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ وَعَامَّتِهِمْ.
رواه مسلم.
“Agama adalah nasehat kami
bertanya : Untuk siapa? Untuk Alloh, kitabnya, Rasulnya, umat muslim secara
keseluruhan” (HR. Muslim).
Dalam Islam kita dianjurkan berbuat
baik, seperti dianjurkan sedekah, menyantuni anak yatim, dianjurkan
memperbanyak istighfar, tasbih, takbir, tahlil, tahmid,
menganjurkan kebaikan dan meninggalkan keburukan.
Hal ini seiring dengan peristiwa yang dialami
para sahabat nabi Muhammad SAW, dimana mereka merasa iri hati terhadap
orang-orang yang kaya sebab mereka orang kaya dengan mudah masuk surga dengan
modal kekayaannya mampu bersedekah kepada oran lain, sedangkan sahabat
yang miskin tidak mampu bersedakah akibat minimnya ekonomi mereka sehingga
sahabat menyampaikan kepada Rasulullah SAW, kemudian Rasulullah saw menjawab :
bukankah Alloh telah memberikan kesempatan kepada kalian untuk bersedekah ?
إِنَّ بِكُلِّ
تَسْبِيْحَةٍ صَدَقَةً وكُلِّ تَكْبِيْرَةٍ صَدَقَةً وكُلِّ تَحْمِيْدَةٍ صَدَقَةً
وكُلِّ تَهْلِيْلَةٍ صَدَقَةً وَأَمْرٍ بِمَعْرُوْفٍ صَدَقَةً وَنَهْيٍ عَنْ
مُنْكَرٍ صَدَقَةً وَفِى بُضْعِ اَحَدِكُمْ صَدَقَةً (رواه مسلم)
“Sesungguhnya tiap-tiap tasbih adalah sedekah,
tiap-tiap takbir adalah sedekah, tiap-tiap tahmid adalah sedekah, tiap-tiap
tahlil adalah sedekah, tiap-tiap memerintahkan kebaikan dan melarang
kemungkaran adalah sedekah, dan persetubuhan salah seorang di antara kamu
(dengan isterinya) adalah sedekah”
3.
Berakhlak baik kepada sesama manusia
Berbuat baik kepada sangatlah dianjurkan dalam
agama. Baik kepada Orang tua, saudara, anak dan tetangga itu termasuk wujud
keimanan seseorang kepada Allah SWT., berbuat baik kepada mereka berhukum
wajib, bahkan Islam mengajarkan agar kita berbuat baik kepada hewan, sehingga
ketika menyembelih hewanpun ada aturan yang diterapkan diantaranya, pisau harus
tajam, dihadapkan ke arah kiblat, memberikan bantal penyanggah pada kepala
hewan yang akan disembelih dan didahului dengan membaca basmalah dan dua kalimat syahadat.
Sehingga hewan yang akan disembelih merasa tidak teraniaya.
Mudah mudahan khutbah ini memberikan motivasi
kepada kita sehingga mampu beramal baik dan menjauhi kemungkaran sehingga hidup
kita akan selamat fiddini wad dunya hattal akhiroh amin.