Tak ada manusia
yang tak membutuhkan rasa aman. Namun dalam realitas kehidupan, kesulitan,
musibah, atau kondisi tak aman mustahil dihindari. Manusia memang hidup dalam
serba-dua kemungkinan: siang dan malam, sehat dan sakit, hidup dan mati, aman
dan taka man, dan sebagainya.
وَمِنْ
كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ (٤٩)
“Dan segala
sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah”
(QS Adz-Dzariat[51]: 49).
Dalam Tafsir Jalalain dijelaskan, ayat tersebut bermakna bahwa pencipta
segala yang berpasangan adalah satu, yakni Allah, maka sembahlah Allah (Syekh
Jalaluddin, h. 377). Artinya, di balik keberpasangan setiap kondisi tersebut
ada Dzat Tunggal yang perlu disadari. Allah subhanahu wata’ala adalah
satu-satunya tempat bergantung, kembali, dan berserah diri. Bersamaan dengan
datangnya tahun baru, Indonesia mengalami berbagai musibah, mulai dari angin
besar, banjir, tanah longsor, kecelakaan, dan lainnya. Yang perlu disikapi dari
musibah ini adalah mengembalikan semuanya kepada Yang Maha Memiliki, Allah
subahanhu wata’ala. Bumi, langit, dan seisinya adalah milik Allah maka Allah
berhak mau menjadikannya seperti apa. Bahkan seandainya seluruhnya
diluluhlantakkan manusia tidak akan bisa berbuat apa-apa. Namun demikian,
manusia juga harus bermuhasabah (introspeksi), apakah musibah yang ia terima
merupakan bentuk ujian, peringatan, atau yang lain. Sehingga, manusia lebih
berhati-hati dalam menjaga amanah alam ini. Allah berfirman:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ
وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي
عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ (٤١)
“Telah tampak
kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia,
supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka,
agar mereka kembali (ke jalan yang benar).(QS. Ar-rum[30]: 41).
Imam Jalaludin dalam Tafsir
Jalalain menjelaskan lafal بِمَا
كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ (karena perbuatan tangan manusia) dengan
arti مِنَ الْمَعَاصِى, yang berarti “karena maksiat”.
Artinya bahwa kerusakan di bumi ataupun di langit timbul karena ulah
manusia, persisnya sebab kemaksiatan yang mereka lakukan.
Kemaksiatan di sini tentu bukan hanya berbentuk pelanggaran atas norma
“halal-haram” yang biasa kita dengar, seperti minuman keras, berjudi, zina,
atau sejenisnya. Selain berkenaan dengan urusan privat, kemaksiatan juga bisa
berupa dosa yang berkaitan dengan masyarakat dan lingkungan. Segala bentuk
perbuatan merusak alam adalah kemaksiatan. Karena dengan merusak alam secara
tidak langsung telah mengurangi keseimbangan alam, sehingga akan menyebabkan
masalah pada hari ini dan masa-masa yang akan datang.
Tanah longsor terjadi bisa jadi sebab adanya penebangan pohon secara
brutal. Banjir dating karena dipicu perilaku buang sampah sembarangan,
sungai-sungai menyempit karena bangunan pemukiman, area resapan air berkurang
drastis akibat kian meluasnya aspal dan beton, dan lain sebagainya.
Jamaah shalat Jumat hafidhakumullah, Orang yang berilmu dan beriman akan
menjadikan musibah sebagai momentum meningkatkan kebaikan. Baik kebaikan itu
tertuju kepada Allah maupun kepada makhluk itu sendiri. Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam:
مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا
يُصِبْ مِنْهُ رواه البخاري
“Barangsiapa
yang Allah kehendaki baginya kebaikan maka Allah akan memberikan
musibah/cobaan” (HR Bukhari).
Segala musibah yang menimpa menjadi alat untuk berdzikir dan muhasabah
diri, sehingga manusia dapat mengambil sisi positif terutama dalam meningkatkan
kualitas keimanan dan ketakwaan kepada Allah subhanahu wata’ala. Bukan
sebaliknya: saling menghujat, saling menyalahkan antarsesama, rakyat dengan
pemerintahnya, atasan dengan bawahannya, dan sebagainya. Namun benar-benar
menjadikan musibah sebagai pembenahan terhadap diri dan lingkungan agar
tercipta kehidupan yang lebih baik, aman, dan tenteram.
Sebagaimana kisah Rabiah Al-Adawiyah yang selama hidupnya mengalami
kesulitan demi kesulitan, dengan dasar iman maka diraihlah ahwal hubb atau
kecintaan kepada Allah yang tiada tara. Hal ini membuktikan bahwa di setiap
musibah atau kesulitan ada kebaikan yang Allah selipkan di dalamnya. Hanya
orang-orang yang sadar dan sabarlah yang akan meraih kebaikan tersebut. Dengan
bahasa lain, musibah pun bisa memicu mahabbah (rasa cinta). Selain dari
kebaikan-kebaikan yang bersifat relatif, kesabaran dalam menerima musibah
adalah cara Allah menghapuskan dosa-dosa.
مَايُصِيْبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ
نَصَبٍ وَلَاوَصَبٍ وَلَاهَمٍّ وَلَاحُزْنٍ حَتَّى الشَّوْكَةَ يُشَاقُّهَا اِلَّا
كَفَّرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ رواه البخاري
“Tidak ada yang
menimpa seorang mukmin dari kelelahan, penyakit, kesusahan, kesedihan, hingga
duri yang menusuk tubuhnya, kecuali Allah menghapus kesalahan-kesalahannya”
(HR. Bukhari).
Yang ditekankan dalam konteks musibah adalah kesabaran menghadapinya.
Memang, di kalangan ulama berbeda pendapat apakah kesabaran atau musibah itu
sendiri yang menyebabkan terhapusnya dosa-dosa. Menurut Syekh Izuddin
bin Salam sebagaimana dijelaskan dalam kitab Irsyadul Ibad, sesungguhnya
musibah yang menimpa orang mukmin tidak mengandung pahala, sebab musibah
bukanlah atas usahanya. Akan tetapi, pahala itu terletak pada kesabaran atas
musibah tersebut. Namun, dijelaskan berikutnya bahwa musibah adalah pelebur
dosa sekalipun orang mukmin yang ditimpanya tidak sabar, sebab tidak ada syarat
bagi pelebur dosa untuk diusahakan oleh seorang mukmin.
Berdasarkan penjelasan tersebut dapat dipahami bahwa apa pun bentuknya
musibah adalah sebuah cobaan dari Allah untuk makhluknya yang di dalamnya
mengandung maksud dan tujuan baik bagi yang menerimanya. Tinggal bagaimana
menyikapinya: sabar atau justru ingkar. Dengan demikian, musibah adalah
sarana untuk mengingat sang pemberi musibah, upaya untuk meningkatkan kualitas
keimanan, yang pada akhirnya menumbuhkan rasa cinta yang mendalam kepada Allah
setelah merasakan kenikmatan di balik musibah yang menimpanya. Mahasuci Allah
yang senantiasa memberikan yang terbaik untuk makhluk-Nya.
Semoga kita semua senantiasa dijadikan orang-orang yang mampu menyikapi
segala musibah sebagai sarana peningkatan iman dan takwa. Sehingga hilangnya
musibah berbekas kebahagiaan baik untuk dunia maupun akhirat. Wallahu a’lam
bish shawab.