Allah telah
menciptakan manusia dengan bentuk dan penampilan yang terbaik. Dalam Al-Qur’an
Surat at-Tin diistilahkan dengan frasa fî ahsani taqwîm. Mayoritas ahli tafsir
memaknai taqwîm di sini sebagai bentuk (syakl) dan penampilan (shûrah) lantaran
struktur tubuh yang tegap, cara konsumsi yang menggunakan tangan, dan keindahan
lain yang tak dimiliki kebanyakan binatang. Yang menarik,
penegasan tentang hal ini menggunakan dua huruf penguat lam dan qad (wa
laqad khalaqnâl insâna fî ahsani taqwîm) yang berarti pesan ini sangat Allah
tekankan. Apalagi sebelum ayat keempat ini, tiga ayat sebelumnya masing-masing
merupakan redaksi sumpah, yang kian memperkokoh pernyataan tersebut. Allah
sungguh-sungguh menegaskan bahwa manusia Dia ciptakan dalam bentuk terbaik. Hal
ini berlaku untuk manusia secara umum tanpa membeda-bedakan antara satu sama
lain.
Namun demikian, ternyata Allah pun menciptakan mereka dalam ciri yang
beraneka ragam, mulai dari jenis kelamin, suku, rumpun bangsa, hingga kemampuan
fisik. Pada titik inilah, manusia kemudian terkelompok-kelompokkan berdasar
kesamaan yang dimiliki. Berangkat dari kondisi ini tak jarang sentiman
antarkomunitas pun muncul. Ras satu menganggap diri lebih unggul dari ras yang
lain, etnis satu merasa lebih baik dari yang lain. Kecenderungan tersebut lazim
kita sebut dengan rasisme, yakni ketika superioritas atau keunggulan dinilai
sekadar dari ciri-ciri biologis atau kedaerahan: antara kulit hitam dan
berwarna, antara orang dari daerah A dan orang dari daerah B, antara pendatang
dan pribumi, dan seterusnya.
Kita tentu sering mendengar kisah
pembangkangan Iblis kepada Allah yang menolak bersujud hormat kepada Nabi Adam
'alaihissalam. Faktor utama yang membuat Iblis durhaka adalah lantaran ia yang
diciptakan dari api merasa lebih baik ketimbang Adam yang tercipta dari
tanah. Inilah awal mula kemunculan benih rasisme di kalangan makhluk, ketika
kualitas diri dihitung hanya dari pembedaan antara ras api dan ras tanah. Atas
sikap takaburnya ini, Iblis dilempar keluar dari surga dan menjadi makhluk
paling dilaknat.
Kesalahan pokok Iblis adalah hanya memandang
Adam sebagai Adam, bukan Adam sebagai manusia ciptaan Allah yang sekaligus
dimuliakan-Nya. Menganggap remeh Nabi Adam sama artinya menghina penciptanya.
Apalagi secara tegas Allah berfirman: Wa laqad karramnâ banî âdam (sungguh
telah Kami muliakan manusia). Rupanya Iblis la'natullah 'alaih tidak hirau. Ia
memilih jalur ingkar dan hingga kini terus menabur teladan buruknya itu ke
seluruh umat manusia.
Lantas apa yang mesti kita perhatikan agar
terhindar dari rasisme yang menjerumuskan itu? Setidaknya ada tiga poin yang
harus diterapkan. Pertama, menyadari bahwa standar kemuliaan manusia bukanlah
fisik melainkan ketakwaan. Pemahaman ini merujuk pada firman Allah:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقۡنَٰكُم مِّن
ذَكَرٖ وَأُنثَىٰ وَجَعَلۡنَٰكُمۡ شُعُوبٗا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓاْۚ إِنَّ
أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٞ
Artinya: "Wahai
manusia! Sungguh Kami telah menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan
perempuan, kemudian Kami jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar
kalian saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian adalah
yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti" (QS
al-Hujurat: 13).:
Dengan
demikian, di luar ketakwaan setiap manusia adalah setara. Tidak boleh
didiskriminasi atau pun dilecehkan hak-haknya, baik karena kemiskinanannya,
ketidaktahuannya, serta identitas agama, suku, atau rasnya. Bagaimana kita
mengukur ketakwaan orang lain? Tidak ada parameter paling akurat kecuali Allah
sendiri yang Mahatahu. Takwa seseorang lebih banyak berasal dari kedalaman
hati, dan inilah yang paling diperhitungkan Allah dalam diri manusia. Selaras
dengan ayat di atas adalah sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang artinya
:
Artinya: "Sesungguhnya
Allah tidak memperhatikan badan dan rupa kalian, melainkan Dia memperhatikan
hati kalian."
Poin
kedua yang juga penting dicatat adalah: lebih banyaklah fokus pada kekurangan
diri sendiri dari pada kekurangan orang lain. Muhâsabah atau introspeksi akan
menjadikan orang lebih sibuk dengan ikhtiar memperbaiki diri ketimbang
mengoreksi orang lain. Keuntungannya, yang terjadi kemudian adalah berlomba
dalam kebaikan (fastabiqûl khairat; berkompetisilah dalam kebaikan!), bukan
berlomba saling menjatuhkan. Menghina atau meremehkan orang lain sama sekali
tak membuat diri kita semakin mulia, justru mungkin sebaliknya. Sebab,
kemuliaan manusia sejatinya lebih sering tersirat daripada tampak secara kasat
mata. Syekh Muhammad Ali al-Bakri dalam Dalîlul Fâlihîn li Thuruq Riyâdlis
Shâlihîn mengatakan "Kadang, orang ‘remeh’ di mata manusia memiliki
kapasitas lebih besar di sisi Allah dari pada kebanyakan orang yang
diagung-agungkan di dunia."
Ketiga,
penting bagi kita untuk mengasah kepekaan terhadap nilai-nilai kesetaraan
dengan memperbanyak bergaul atau berdialog dengan orang lain yang berbeda.
Betapa banyak ketersinggungan, kebencian, dan tindak menyakiti orang lain
dilatari komunikasi yang buntu. Dengan membuka komunikasi, kita akan terhindar
dari kecurigaan, salah paham, atau perbuatan menyinggung yang (meskipun) tak
disengaja. Inilah nilai utama dari potongan surat al-Hujarat yang disebut tadi:
Lita'ârafû atau supaya saling mengenal menjadi
tujuan kunci dari diciptakannya manusia yang bermacam-macam jenis kelamin,
suku, dan bangsa. Semangat ini pula yang dicontohkan Nabi saat hijrah beliau
sampai pertama kali di Madinah. Beliau mencairkan perbedaan kabilah dan
dikotomi pribumi-pendatang dengan mempersaudarakan mereka dalam satu ikatan.
Semoga
kita semua dianugerahi kekuatan oleh Allah untuk senantiasa meneladani
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang sangat manusiawi dan memanusiakan
manusia.