Marilah
kita senantiasa saling berwasiat dalam perkara-perkara yang haq dan kesabaran.
Perkaran yang haq merupakan perkara yang tidak menyimpang dari syariat. Sementara
sabar adalah merupakan watak dan perilaku kuat dalam menjalankan ketaatan, kuat
dalam menghadapi ujian atau musibah yang datang dari Allah,ndan kuat dalam
menjauhi dan menghindari segala kemaksiatan. Satu dari kesekian kemaksiatan yang harus
dihindari oleh kita adalah menjauhi sikap adu domba. Sidang Jumat
yang dirahmati oleh Allah SWT Adu domba dalam syariat sering diistilahkan
sebagai namimah. Ada banyak hadits yang menjelaskan buruknya sikap tersebut. Sebagaimana dikutip dalam kitab Tanbihu
al-Ghafilin, shahifah 61, Nabi Muhammad SAW bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan
oleh sahabat Hudzaifah radliyallahu ‘anhum “Tidak akan masuk surga qattatun, yakni orang
yang gemar adu domba”
Karakter
dari pelaku namimah ini disebutkan di dalam sebuah hadits, yang diriwayatkan
oleh Sahabat Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu, Rasulullaah SAW bersab: "(Suatu ketika Rasulullah SAW bertanya
kepada para sahabat) Tahukah kalian, siapakah seburuk-buruk orang di antara
kalian? (Dengan rasa ta’dhim) para sahabat menjawab: Allah dan Rasul-Nya yang
paling tahu. Beliau Rasulullah SAW menjelaskan: Seburuk-buruk kalian adalah
orang yang bermuka dua. Mereka datang ke suatu kelompok dengan satu muka dan
mendatangi lainnya dengan muka lainnya.”
Jelas
sudah bahwa orang yang gemar adu domba itu digambarkan sebagai orang yang
bermuka dua. Mereka adalah orang penjilat. Datang ke satu kelompok seolah
berada di pihaknya, dan mendatangi kelompok lainnya yang berbeda sebagai seolah
berada di pihaknya pula.
Mereka
orientasinya mencari keuntungan dunia yang sifatnya sementara. Bermain di air
keruh. Mengadu sana, mengadu sini. Setelah pihak yang diadu bertempur,
berperang, saling ejek, hingga bertindak di luar kendali, bahkan mungkin saling
bunuh, dia menimba dan mengambil keuntungan dari padanya.
Tokoh
demikian ini digambarkan sebagai Abdullah bin Salul yang menjadi latar belakang
turunnya Al-Qur’an Surat Al-Baqarah [2] ayat 14: “Dan apabila mereka berjumpa dengan orang yang
beriman, mereka berkata, ‘Kami telah beriman.’ Tetapi apabila mereka kembali
kepada setan-setan (para pemimpin) mereka, mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami
bersama kamu, kami hanya berolok-olok.” Tapi, tahukah kita bahwa Allah SWT senantiasa akan membalas tabiat
kaum bermuka dua seperti ini, sebagaimana Firman-Nya dalam Surat Al-Baqarah [2]
ayat 15: “Allah akan
memperolok-olokkan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam
kesesatan.” Allah SWT mengumpamakan orang yang bermuka dua ini sebagai orang
yang melakukan niaga, jual beli informasi yang menyesatkan. Sungguh, bila hal
ini yang dilakukan, maka tiada berkah niaga mereka.
Sebagaimana
hal ini disinggung dalam Firman Allah SWT dalam Surat Al-Baqarah [2] ayat 16:
“Mereka itulah yang membeli kesesatan dengan petunjuk. Maka perdagangan mereka
itu tidak beruntung dan mereka tidak mendapat petunjuk.”
Lantas
bagaimana kita seyogyanya menyikapi pihak yang seperti ini? Al-Faqih Al-Qadli
Abu Laits, dalam kitabnya Tanbihu al-Ghafilin, shahifah 63, menjelaskan, ada 6
perkara yang wajib dilakukan oleh kita sebagai kaum Muslimin. Al-Qadli Abu Laits, berkata: “Apabila ada seorang
insan datang kepadamu, lalu memberi warta kepadamu tentang satu hal tentang
perilaku Si Fulan yang berkaitan denganmu sebagai yang begini dan begini, dan
kemudian ternyata ia juga diketahui suka berkata tentangmu kepada Si Fulan
sebagai yang begini dan begini, maka karena track record-nya yang demikian itu,
wajib bagimu melakukan 6 hal, yaitu:
“Pertama,
jangan engkau telan mentah-mentah kesaksiannya. Karena kesaksian ahli adu domba
adalah tertolak di sisi orang Islam.”
"Kedua,
kamu harus melarangnya dari melakukan perbuatan itu. Karena mencegah perbuatan
munkar hukumnya adalah wajib.
“Ketiga,
hendaknya kamu membencinya karena Allah SWT. Karena dia adalah seorang pelaku
maksiat. Marah atau membenci pelaku maksiat hukumnya adalah wajib.
“Keempat, hendaknya engkau tidak berburuk sangka
kepada saudaramu yang tidak ada di hadapanmu. Karena sesungguhnya buruk sangka
terhadap orang Islam hukumnya adalah haram
“Kelima,
hendaknya engkau jangan mencari-cari kesalahan saudaramu itu. Karena
sesungguhnya Allah SWT telah melarang dari bersikap suka mencari-cari kesalahan
tersebut.”
“Keenam, sesuatu yang tidak membuatmu ridla
karena sikap dan watak pengadu domba ini, jangan engkau balik melakukannya,
seperti memberitahu orang lain perihal pengadu domba itu datang kepadamu.”
Begitulah
sikap namimah dicela oleh syariat. Semua itu disebabkan karena sikap dan watak
yang suka mengadu domba inilah terletak suatu sebab bagi timbulnya mafsadah
yang besar. Tidak hanya bahaya dari sisi adab dan tata krama sosial dan etika
pergaulan, melainkan juga secara syariat, pelakunya sering disebut sebagai
orang yang fasik, pelaku maksiat, dan berbagai sebutan lainnya. Semoga
kita senantiasa dilimpahi kekuatan untuk menjauh dari sikap adu domba ini.
Sikap mengadu antar sesama. Alangkah lebih indah bila sikap ini kita ganti
dengan sikap semanak, demulur atau sikap ukhuwah, yang salah satu pintunya adalah
melalui jalan silaturahmi.