Di tengah krisis multidimensi yang menimpa
bangsa kita ini, mulai dari krisis moral, krisis ideologi, krisis ekonomi, dan
lain sebagainya, marilah renungkan firman Allah berikut ini:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ
وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ
الصَّابِرِينَ، الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ
وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ، أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ
وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ
Artinya: “Dan sungguh kami uji kalian dengan
sedikit rasa ketakutan, lapar, kekurangan harta benda, jiwa, buah buahan. Dan
berilah kabar gembira orang orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang ditimpa
musibah, mereka mengatakan ‘Sesungguhnya kami milik Allah, dan sesungguhnya
kami akan kembali kepada-Nya. Mereka itulah orang yang akan mendapatkan rahmat
dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang mendapatkan hidayah.” (QS
Al-Baqarah: 155-157)
Dari ayat tadi bisa kita telaah bahwa
kehidupan manusia itu selalu berubah-ubah. Roda kehidupan selalu berputar,
terkadang kita jumpai kemudahan dalam segala bidang, dan pada lain waktu, kita
temukan kesulitan hidup. Di satu saat kita bisa bersedih, di saat lain kita
bisa tiba-tiba menjadi gembira. Semua dinamika ini dinamakan sebagai ujian dari
Allah subhânahu wa ta’âlâ agar iman kita bisa menjadi tebal, kedekatan kita
kepada Allah akan selalu bertambah. Dalam kitab matan al-Kharidah
al-Bahiyyah, Syekh Ahmad Dardir mendendangkan sebuah syair:
وَكُنْ
عَلَى آلَائِهِ شَكُوْرًا، وَكُنْ عَلَى بَلاَئِهِ صَبُوْرًا
Artinya: “Dan bersyukurlah atas nikmat-nikmat
Allah, dan bersabarlah atas cobaan-cobaan-Nya.”
Syair ini menjelaskan tentang tugas kita,
agar pandai-pandai bersyukur atas karunia Allah. Anugerah yang diberikan tidak
membuat kita lena tentang bagaimana cara menggunakan nikmat tersebut secara
baik dan benar. Begitu pula sebaliknya. Pada waktu kita dikasih cobaan oleh
Allah, tugas kita adalah bersabar. Kita harus selalu ber-husnudhan kepada
Allah. Kita perlu yakin, Allah akan memberikan kemudahan kepada kita, mungkin
saja nanti atau di kemudian hari. Allah berfirman:
فَإِنَّ
مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ، إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
Artinya: Sesungguhnya bersama kesulitan, ada
kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan, ada kemudahan.” (QS As-Syarh: 5-6)
Di ayat ini, Allah mengulangi tentang
kebersamaan antara kesulitan pasti akan ada kemudahan, itu pasti. Bahkan Allah
mengulangi sampai dua kali. Kita tidak boleh meragukan firman Allah ini.
Dalam sebuah hadits qudsi, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas
radliyallâhu anh, Allah berfirman:
خَلَقْتُ
عُسْرًا وَاحِدًا وَخَلَقْتُ سَيْرَيْنِ
Artinya: “Allah bersabda, Aku ciptakan
kesulitan satu, tetapi di situ pula aku ciptakan dua kemudahan.”
Hadirin, Sekarang ini, di antara kita
mungkin sedang bertani, namun gagal panen. Atau panen sukses tapi harganya
tidak sesuai harapan. Yang menjadi pelajar, nilai yang diperoleh kurang sesuai
harapan. Yang kerja kantor, ada masalah di kantornya. Yang berdagang ditipu
orang. Hal tersebut bisa saja menimpa kita. Di saat-saat demikian, kita tetap
harus menata hati untuk memosisikan Allah pada dugaan yang selalu baik. Kata
Allah dalam hadits qudsi menyebutkan:
أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِيْ بِيْ
Artinya: “Aku itu berada pada posisi dugaan
hamba-Ku kepada-KU.”
Maksudnya, jika kita meyakini Allah tidak
akan bisa menyelesaikan masalah kita, masalah kita pun tidak akan kelar.
Apabila kita yakin bahwa Allah bisa menyelesaikan urusan kita yang menurut
ukuran kita itu sangat rumit, Allah pun akan menyelesaikan problem tersebut
dengan skenarionya yang indah. Maka yang patut kita panjatkan kepada
Allah bukan kalimat “Ya Allah, masalahku sungguh besar.” Bukan. Namun, dengan
kalimat “Masalah! Allah-ku maha paling besar.” Seberapa besar masalah kita,
Allah lebih agung daripada masalah kita.
Hadirin, Perihal kesulitan, dari Ibnu
Mas’ud menyebutkan:
وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ لَوْ كَانَ
الْعُسْرُ فِيْ حُجْرٍ لَطَلَبَهُ الْيُسْرُ حَتَى يَدْخُلَ عَلَيْهِ وَلَنْ
يَغْلِبَ عُسْرٌ يُسْرًا
Artinya: “Demi Allah, seandainya kesulitan,
keterpurukan, kegagalan itu berada dalam suatu lubang, pasti kemudahan akan
mencarinya hingga bisa merangsek masuk. Dan kesulitan tidak akan bisa
mengalahkan kemudahan. Dalam arti, kemudahan pasti akan menang.”
Solusi terbaik menghadapi hidup adalah
optimism.
اَلْيَقِيْنُ
اَلْعِلْمُ كُلُّهْ
Artinya: “Optimisme merupakan sumber
keilmuan, apa saja.”
Mari kita bangun optimisme, sembari sambil
membenahi kekurangan-kekurangan yang ada pada diri kita, kita evaluasi sikap
kita, kinerja kita, dengan tetap mengutamakan doa, munajat kepada Allah
subhânahu wa ta’âlâ yang rajin, shalat malam, supaya masalah kita diselesaikan
oleh Allah dengan cara-Nya yang indah, insyaallah kita akan diberikan jalan
keluar dari aneka krisis tersebut. Rasulullah shallalâhu alaihi wa sallam
bersabda :
أَفْضَلُ
الْعِبَادَةِ إِنْتِظَارُ الْفَرَجِ
Artinya: “Sebaik-baik ibadah adalah menanti
kegembiraan.”
Yang dimaksud Rasulullah shallalâhu alaihi wa
sallam kira-kira adalah optimisme menyambut datangnya kebahagiaan itu merupakan
ibadah yang agung. Bagaimana kalau tidak agung apabila semua umat muslim di
muka bumi ini berputus asa, tidak ada yang mau berusaha. Padahal putus asa
merupakan suatu hal yang harus kita hindari. Lawan kata putus asa adalah
optimisme, keyakinan yang tangguh.
Pesan Nabi Ya’qub kepada anak-anaknya yang
disebutkan dalam al-Quran:
وَلَا
تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا
الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ
Artinya: “Janganlah kalian berputus asa dari
rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah
orang-orang kafir.” (QS Yusuf: 87)
Dengan demikian, ada beberapa pelajaran yang
perlu kita petik dari khutbah kali ini: Pertama, semua orang akan dipenuhi rasa
jika tidak sedang bahagia, maka dia sedang berduka. Jika bahagia, sikapnya
harus bersyukur, jika berduka harus bersabar. Kedua, berdoa
atau memohon kepada Allah dengan penuh optimisme itu sangat penting.
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي
عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ
فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
Artinya: Jika hamba-hamba-Ku bertanya
kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku sangat dekat. Aku
kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah
mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh
kebenaran. (QS Al-Baqarah: 186)
Dalam cerita Nabi Yunus saat dia ditelan oleh
ikan, berkat doa yang ia panjatkan, Allah kemudian mengabulkan. Dzin Nun atau
yang terkenal dengan nama Nabi Yunus pun akhirnya bisa keluar dari perut ikan.
Sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh Said bin Abi Waqash adalah:
دَعْوَةُ
ذِي النُّوْنِ إِذَا دَعَا رَبَّهُ وَهُوَ فِيْ بَطْنِ الْحُوْتِ: لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَك َإِنِّيْ
كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِيْنَ. لَمْ
يَدْعُ بِهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ فِيْ شَىْءٍ قَطُّ إِلاَّ اسْتُجِيْبَ لَهُ
Artinya: “Doa Nabi Yunus ketika berada di
perut ikan yang besar adalah ‘Lâ ilâha illâ anta, subhânaka innî kuntu minadh
dhâlimîn.’ Tidak ada seorang muslim satu pun yang berdoa memakai kalimat itu
kecuali dikabulkan doanya.”
Ketiga, pentingnya berhusnudhan kepada Allah
ta’âlâ. Berprasangka baik merupakan kunci kebahagiaan Keempat,
bagi orang yang sedang dirundung duka, penuh cobaan hidup, hendaknya
memperbanyak doa:
لَا
إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَك َإِنِّيْ كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِيْنَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ
العَظِيْمُ الحَلِيْمُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ رَبُّ العَرْشِ العَظِيْمُ لَا إِلَهَ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ رَبُّ
العَرْشِ العَظِيْمُ
يَا
حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ
الله
الله رَبِّي لَا أُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا
Semoga kita tergolong orang-orang yang
diberikan anugerah bisa mensyukuri aneka macam nikmat Allah. Andai saja kita
diberi cobaan, semoga kita dianugerahi sabar dan optimisme serta pribadi yang
selalu dekat kepada Allah baik dalam keadaan suka maupun duka.
بارك الله لى ولكم فى القرأن العظيم، وجعلني واياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم. إنه هو البر التواب الرؤوف الرحيم